Banyaknya kejadian orang meninggal karena terlambat pada penanganan pertama pada kondisi gawat darurat melatarbelakangi dilakukannya seminar yang diikuti puluhan mahasiswa ini yang menurut Diah sangat penting penanganan BHD sebelum mendapatkan penanganan khusus dari pihak rumah sakit.
“Kami berikan bimbingan untuk BHD kepada mereka, supaya mereka bisa membantu ketika ada yang terjadi hal darurat,” ujar Diah kepada Korankaltim.com hari ini.
Poltekkes Kalimantan Timur juga menginisiasi alur SPGDT yang mana sebelum masuk ke rumah sakit setidaknya SPGDT dapat diaktifkan terlebih dahulu. Terlebih di Samarinda Publik Safety Centre (PSC) tidak fast respon.
“Karena berlapis, jadi setiap kami hubungi tidak begitu cepat responnya, inilah bentuk pengabdian kami dan kami ingin alur SPGDT bisa segera atkif, jadi kalau sudah aktif, kami bisa ke kampus lain,” paparnya.
Satu diantara kesalahan pada penanganan pertama yang biasa dilakukan adalah menelpon orang terdekat yang membuat ada jeda waktu yang harusnya bisa digunakan untuk menolong pada kondisi darurat karena waktu yang tepat untuk menolong itu pada 10 menit pertama.
“Lewat dari 10 menit itu bisa pulih kembali, bisa cacat dan bisa menyebabkan orang meninggal,” ujar Diah.
Kejadian seperti itu biasanya disebabkan adanya komplikasi, riwayat jantung dan bisa juga karena gangguan elektrolit.
Diah berharap setelah kegiatan ini Polnes dapat membuat alur SGPGT dan call centre pada penanganan gawat darurat sebagai upaya memberikan kemudahan bagi para KSR ataupun pasien yang mengalami kondisi gawat darurat.
“Tentunya melalui call center nantinya sudah diketahui penanganannya harus seperti apa,” tutup Diah.
Editor: Aspian Nur