
Kerjasama ini dilakukan sebagai bentuk dukungan sekolah yang berada di Jalan Gunung Kombeng itu terhadap program Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara yaitu Gerakan Etam Mengaji (Gema).
Kepala SMPN 3 Tenggarong Sariyani menjelaskan, sebenarnya pihaknya sudah bekerja sama dengan Yayasan Az Zumar sejak setahun yang lalu, hanya saja tidak diperkuat dengan surat keputusan hal tersebut menjadi wajib.
Diharapkan dengan itu menjadi lebih solid dan diikuti oleh seluruh peserta didik di SMPN 3 Tenggarong terutama kelas 7 yang juga pada saat ini mengikuti Kurikulum Merdeka.
“Kemudian memang ada kewajiban diperkuat juga oleh keputusan dari Bupati Kutai Kartanegara yaitu tentang program Gema sampai-sampai kami memperkuat gerakan atau mengaji ini juga menjadi juara pertama gerakan literasi se-Kutai Kartanegara tapi bukan itu yang kami kejar itu hanya sebagai bonus,” papar Sariyani kepada Korankaltim.com usai penandatangan MoU pagi ini.
Dalam implementasinya, bentuk kerjasama ini diberikan pengajaran baca Alquran metode tilawati tiga kali pertemuan dalam satu pekan. Diharapkan dengan adanya kegiatan positif baca Alquran metode tilawati ini maka mengurangi intensi penggunaan gadget.
“Kemudian mereka juga otomatis memiliki sertifikat nasional karena ini sudah mencapai nasional standar bacaannya, dan harapannya yang paling terpenting adalah menjadi siswa beriman bertakwa berguna bagi nusa bangsa dan tanah air,” sebutnya.

Sementara Ketua Yayasan Az Zumar Ahmad Zainuri menuturkan, ke depan SMPN 3 Tenggarong khusus di Kecamatan Tenggarong bisa menjadi role model percontohan bagi sekolah umum lainnya yang mampu memberi inspirasi literasi pembelajaran Alquran dengan menggunakan metode tilawati.
“Ini sejalan dengan program pemerintah yaitu gerakan etam mengaji dan program ini sangat bagus sekali didukung penuh oleh pemerintah,” ujar Zainuri.
Hal senada ditambahkan Dewan Pembina Pendidikan Kukar yang juga selaku Wakil Rektor II Universitas Kutai Kartanegara (Unikarta) Misran yang menegaskan dengan adanya MoU ini maka bisa bersinergi, sehingga jangan ada pandangan bahwa sekolah umum itu hanya konsentrasi pada pelajaran umum dan mengabaikan atau justru tidak terlalu konsen ke wilayah keagamaan.
“Dengan adanya MoU ini harapannya adalah bahwa mari kita sama-sama merealisasikan bahwa meskipun kita di sekolah umum tetapi spirit keagamaannya juga bagus misalnya dalam hal ini cara membaca alqurannya baik dan benar dan terstandar nasional dalam tilawati,” sebut Misran
Nuansa keagamaan bisa menjadi pembeda dari sekolah-sekolah pada umumnya, kemudian bagi orangtua atau wali murid, Misran mengajak untuk sama-sama bersinergi mendukung baik itu secara moril maupun yang lain-lain, jangan menjadikan ini hanya seremonial penandatanganan saja.
“Boleh sekolah umum tapi kemampuan membaca Alquran baik dan bisa tampil di depan umum dengan bacaan yang bagus,” tegas Misran.
Editor: Aspian Nur