Kepala SD Negeri 004 Sambutan, Rasidi menyebutkan, HUT RI ini menjadi momentum untuk memberikan pengetahuan agar murid memiliki jiwa nasionalisme. Selain itu, dirinya juga memberikan pemahaman tentang perjuangan para pahlawan yang gugur saat melawan penjajah.
"Bagaimana dulu para pendahulu (pahlawan) rela mengorbankan nyawa dan perjuangannya demi bendera merah putih ini bisa berdiri tegak, itu kita tanamkan kepada murid supaya mereka juga mengerti mengapa kita berikan mereka bendera," ungkapnya kepada korankaltim.com, Senin (31/7/2023).
Untuk memeriahkan HUT RI ini, Rasidi ingin mengajak muridnya mengisi hari kemerdekaan dengan hal-hal yang positif. Berhubung sekolah yang dipimpinnya ini merupakan sekolah penggerak, sehingga kegiatan ini sejalan dengan profil pelajar pancasila. Khususnya pada kurikulum merdeka.
"Saya sampaikan kepada wali kelas dan guru agar poin penting tentang kemerdekaan bisa diselipkan dalam pembelajaran, ini juga sejalan dengan profil pelajar pancasila yang ada di kurikulum merdeka," bebernya.
Pembagian bendera merah putih bukan hanya diberikan pada murid kelas satu saja, melainkan hingga kelas 6 atau sekitar 526 bendera sesuai jumlah siswa yang ada di sekolah tersebut.
Sembari memberikan simbol negara tersebut, Rasidi berupaya melakukan dialog dengan murid terkait makna dari warna bendera yang mana merah merupakan lambang keberanian dan putih artinya suci. Dialog itu jelasnya hanya untuk menguji wawasan siswanya.
"Sempat tadi dialog sedikit sama murid kelas satu tentang makna warna bendera, mereka menjawab merah adalah darah dan putih adalah tulang, itu enggak salah, benar juga, tapi yang sebenarnya adalah merah itu berani dan putih adalah suci," ungkapnya.
Rasidi juga menyarankan kepada siswanya untuk mengisi kamar mereka dengan bendera merah putih agar mereka bisa selalu ingat perjuangan para pahlawan dan tak lupa makna dari arti warna merah dan putih. Sebagai sekolah penggerak, Rasidi menilai kegiatan ini merupakan contoh kecil dari implementasi kurikulum merdeka tentang profil pelajar pancasila.
Editor: Maruly Zainuddin