Disdikbud Samarinda Minta Guru Harus Perhatikan Anak Broken Home di Sekolah
1 menit baca900 kali dibaca

Penulis: M Rafik
KORANKALTIM.COM, SAMARINDA – Perhatian khusus harus diberikan guru di sekolah kalau mengetahui ada anak yang broken home alias mengalami masalah di dalam keluarganya.
Anak yang broken home terutama yang orangtuanya berpisah cenderung mengalami masalah dalam mental dan harus dirangkul pihak sekolah terutama guru agar psikologi mereka tidak semakin terganggu.
Hal ini disampaikan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Samarinda Asli Nuryadin kepada Korankaltim.com Senin (24/7/2023) hari ini.
"Pendidikan itu tanggung jawab bersama sehingga semua orang punya peran, karena itu jangan sampai ada anak yang terganggu sekolahnya karena persoalan demikian, harus dibantu oleh sekolah," kata Asli.
Problematika yang ada didunia pendidikan itu dinilai cukup banyak sehingga perlu peran bersama dalam mengatasi hal tersebut khususnya anak yang mengalami kondisi broken home.
"Saya harap sekolah bisa menjembatani persoalan tersebut, karena mereka yang lebih paham kondisi sekolah, tapi kami selalu terbuka apabila ada hal yang ingin perlu bantuan," paparnya.
Disdikbud selalu berupaya agar anak di Samarinda bisa sekolah walaupun dalam kondisi yang rentan seperti broken home karena kalau ada anak yang putus sekolah karena faktor keluarga atau tidak mampu menurutnya hal itu bisa dikomunikasikan.
"Jangan sampai mereka putus sekolah, yang broken home pastinya harus mendapatkan perhatian oleh gurunya agar tetap sekolah dan bagaimana menjaga kondisi mental mereka agar tetap baik," sebut Asli lagi
Saat ini ada sekitar 135 ribu anak sekolah baik dari TK/PAUD hingga SMP di Kota Samarinda, menurutnya dengan jumlah tersebut dapat dipastikan terdapat murid yang mengalami kondisi broken home. Namun ia membantah dengan adanya dugaan terdapat sebanyak 35 persen murid di Samarinda mengalami broken home.
"Saya meyakini dari jumlah itu pasti ada yang broken home tetapi jika disebutkan sebanyak 35 persen, saya agak ragu karena jumlah 35 persen itu dinilai cukup banyak, tapi selalu saya sampaikan problematika pendidikan itu harus kita selesaikan bersama," tutup Asli.
Editor: Aspian Nur










