"Karena kita kan sudah kurikulum merdeka, memang dalam kurikulum ini murid sudah diajak untuk menghasilkan produk. Salah satunya yang kita ajak yaitu hasilkan produk kerajinan batik," ucap Galuh Apriani, salah seorang guru sekaligus pembina batik di SD Negeri 007 Sungai Pinang, Rabu (19/7/23).
Galuh menyebutkan jika produk yang dihasilkan muridnya itu bukan hanya kain batik saja, melainkan ada juga eco enzym, boneka, bantal batik, seni kriya dan masih banyak lagi. Ia menilai upaya yang dilakukan dalam kurikulum merdeka ini agar setiap murid mampu meningkatkan kreatifitas dan karakternya.
"Para pengrajin batik ini dari murid kelas 4 sampai 6 SD, kita didik memang kita bina supaya mereka bisa menghasilkan produk," ujarnya.
Sebagai pembina pengrajin batik, Galuh mengatakan barang yang dipamerkan dalam agenda Samarinda Street Food Festival 2023 ini tidak diperjual belikan dan masih jadi koleksi pajangan. Namun pihaknya tak menutup diri apabila ada masyarakat yang ingin memesan batik.
Kata dia, proses pembuatan batik oleh siswanya berkisar 1 minggu dengan sistem kelompok. "Kalau satu kelas itu ada 6 kelompok berarti ada 6 kain per minggu, walaupun belum memproduksi banyak tetapi kalau ada orang yang mau pesan pastinya akan kita buatkan, di pameran ini khusus untuk dipajang saja tidak untuk dijual," jelasnya.
Sebagai salah satu guru piket yang menjaga tenan, sekaligus penanggung jawab produk eco enzyme Maria Sucahya Ningsih mengaku jika seluruh hasil produk siswa pada momentum ini tidak dijual. Sebab, pihaknya mengaku jika event ini ia berniat hanya untuk memamerkan hasil karya muridnya.
"Kalau eco enzyme tidak dijual, saya akan kasih gratis bagi yang membutuhkan, karena event ini tidak untuk diperjual belikan tapi untuk memperkenalkan hasil produk kami di SD Negeri 007 Sungai Pinang," tutupnya.
Editor: Maruly Zainuddin