Kepala Bidang (Kabid) Pembinaan SD dan SMP Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Samarinda Barlin Kusuma kepada Korankaltim.com mengungkapkan, para siswa yang putus sekolah didominasi akibat pandemi Covid-19 selama 2020-2021 yang merusak roda perekonomian segala sektor.
“Mereka yang putus sekolah tidak lulus karena masa pandemi yang cukup lama sementara untuk sekolah saat itu memerlukan biaya yang cukup besar,” kata Barlin.
Sistem pembelajaran dalam jaringan atau online yang mengharuskan pelajar memiliki handphone dan kuota menambah beban orangtua pelajar yang putus sekolah. Untuk kuota memang disubsidi, namun handphone tidak. Terkadang juga ada yang membantu orangtuanya untuk mencari nafkah, sehingga tidak memiliki waktu untuk mengikuti zoom meeting pembelajaran.
“Pelajar yang putus sekolah terdiri dari kelas I, II dan III. Mereka absen cukup lama, sehingga tidak lulus untuk yang kelas IV SMP,” sebutnya.
Disdikbud Samarinda telah menginstruksikan pada tiap-tiap sekolah untuk mengkonfirmasi para siswa tersebut.
“Kami sudah instruksikan sekolah untuk mencari anak-anak tersebut. Didatangi ke rumahnya, lalu ditanya kenapa enggak sekolah lagi,” ungkap Barlin lagi.
Banyak sekolah yang mengaku keinginan tidak sekolah berasal dari pelajar sendiri, karena memilih untuk bekerja dan keterbatasan biaya. Namun saat ini seluruh murid yang tidak lulus di 2021-2020 lalu sudah mengikuti paket penyetaraan.
“Mereka semua sudah ikut dan gratis. Hanya saja kembali lagi pada lembaga pendidikan nonformal yang menyelenggarakan apakah memungut biaya karena itu tidak kami bantu,” pungkas Barlin.
Editor: Aspian Nur