Kepada Korankaltim.com, Kepala SD Negeri 016 Samarinda Ulu Aminem menjelaskan, bullying memang sangat ditakutkan tak hanya sekolah di Samarinda, namun juga seluruh sekolah yang ada di Indonesia, apalagi hampir dua tahun pembelajaran dilakukan dalam jaringan (daring) atau secara online.
"Covid-19 kemarin nyaris dua tahun anak-anak belajar dari rumah, itu sebetulnya harus diawasi orangtua karena punya waktu lebih banyak mengawasi mereka," sebut Aminem.
Dengan belajar daring, anak-anak tak hanya mengakses pelajaran tapi juga mencari tontonan yang seharusnya 18 tahun ke atas seperti tayangan yang mengandung unsur kekerasan.
Dengan begitu anak-anak akan meniru teman sekelasnya atau teman main di rumahnya, inilah yang harusnya menjadi perhatian semua pihak, mulai dari guru, orangtua juga instansi pendidikan.
“Syukurnya belum pernah terjadi aksi bullying di SD Negeri 016 ini karena betul-betul kami awasi, terutama saat jam anak-anak pulang sekolah. Kalau mereka menunggu jemputan biasanya saya minta wali kelasnya untuk pantau terus, supaya tidak kecolongan," paparnya.
Saat libur akhir pekan, Sabtu dan Minggu, anak-anak pasti diberikan kebebasan baik untuk bermain atau memakai gadget. Orang tua di minta untuk terus mengawasi, mengontrol tiap tontonan anak.
Setiap hari, Aminem juga meminta pada guru maupun wali kelas untuk memberikan sosialisasi pada anak-anak agar tidak melakukan tindak kekerasan.
Editor: Aspian Nur