Launching dan monitoring serta evaluasi terkait perpustakaan digital sudah dilakukan, yang mencakup proses pengumpulan data realisasi program/kegiatan, pelaporan kegiatan, hingga penilaian dan evaluasi capaian kinerja.
"Jadi kelengkapan dan item didalamnya dilihat, biasanya kalau perpustakaan berkaitan dengan katalognya online, misalnya di SMP Negeri 5 ada buku apa saja," ucap Kepala SMP Negeri 5 Diah Astuti kepada Korankaltim.com Selasa (7/2/2023).
Program ini merupakan tantangan dari Dinas Perpustakaan Daerah Kalimantan Timur. Dari situ SMP Negeri 5 diwajibkan untuk mengikuti workshop sebanyak dua kali dan banyak pembenahan dilakukan.
Diah mengaku awalnya staf perpustakaan meragukan pegadaan program ini, namun dirinya meyakinkan jika perpustakaan digital ini akan baik kedepannya. "Staf perpustakaan awalnya bilang berat. Tapi saya sampaikan harus dicoba, karena kalau hanya membayangkan tapa mencoba memang berat," sebut Diah.
Alasan awal ketidak sediaan staf perpustakaan SMP Negeri 5 karena kurangnya sarana prasarana (sapras). Untuk realisasi perpustakaan digital ini diperlukan dua komputer untuk petugas, dua televisi, WiFi yang di khususkan di kawasan perpustakaan saja, dan taman baca.
Jika item itu memenuhi standar, maka penilaian dimulai. Saat ini perpustakaan SMP Negeri 5 masih mendapatkan akreditasi B. "Perpustakaan kami kecil, cuma untuk ornamen di dalamnya sudah lengkap," pungkas Diah.
Editor: Aspian Nur