Aksi demo tak berlangsung lama, sebab Komisi IV bersama Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) serta Asisten III Setkot Samarinda langsung menggelar rapat terbuka bersama seluruh guru di ruang rapat lantai II DPRD Samarinda.
Salah satu tuntutan guru ialah meminta agar menghapus seluruh rencana pemangkasan anggaran insentif guru baik di sekolah negeri, Kemenag maupun swasta serta tidak ada lagi pembedaan antara satu guru dengan guru lainnya berdasarkan regulasi yang ditetapkan.
"Sebenarnya jujur saja kami ingin tidak ada dipotong lah. Ya namanya kesejahteraan itu kita tidak memandang mampu atau tidak mampu," kata Amiruddin, Kepala SMP Aminah Syukur di Jalan Ahmad Dahlan, Samarinda.
Sementara itu, usai diskusi terbuka bersama para guru, Asisten III Pemkot Samarinda Ali Fitri Noor menjelaskan, persoalan insentif ini merupakan masalah nasional. Menanggapi soal kesejahteraan, tidak hanya guru saja yang harus diperhatikan, tapi para pegawai, tenaga kesehatan dan lain sebagainya.
"Permasalahannya itu yang pertama saya katakan, kemampuan kita. Kita jangan memukul sama, kemampuan kita beda, provinsi apalagi. Tetapi komitmen kita untuk mensejahterakan mereka itu ada," kata Ali Fitri.
Dia juga menyebutkan bahwa insentif ini sudah dijelaskan melalui pernyataan Wali Kota Samarinda bahwa tidak ada pemangkasan. Akan tetapi Pemkot perlu mengatur regulasi dan payung hukum permasalahan insentif agar tidak menjadi permasalahan dikemudian hari. "Cuma memang kita atur, mulai dari kemampuannya dan regulasi payung hukumnya. Kalau salah, ya jadi temuan BPK tadi," imbuhnya.
Didalam diskusi, salah seorang guru menyinggung mengenai alokasi anggaran yang dialihkan kepada program Pro-Bebaya. Dalam kesempatan yang sama Ali menegaskan, Pro-Bebaya dan anggaran pendidikan merupakan alokasi anggaran yang berbeda dan telah memiliki posnya masing-masing.
Sementara itu, Ketua Komisi IV DPRD Kota Samarinda Sri Puji Astuti menerangkan, dewan akan terus berupaya agar rencana pemangkasan insentif tersebut tak dilakukan dengan alasan mensejahterakan guru dan kemajuan pendidikan di Samarinda.
Penulis: Linda Mulyani
Editor: Maruly Zainuddin