Anggota Tim PKM-RE Reza Nofrialdy menerangkan, ide membuat edible spoon ini didasarkan karena adanya ketersediaan sumber daya alam tanaman kalakai yang sering ditemukan tumbuh di daerah rawa-rawa.
Ternyata kalakai memiliki kandungan serat kasar 1,93-3,19 persen dan juga ampas tahu yang masih memiliki kandungan gizi yang cukup tinggi berupa air 16,54 persen, abu 6,30 persen, protein 15,23 persen, lemak 6,59 persen, karbohidrat 55,49 persen dan serat kasar 3,33 persen.
"Karenanya kalakai dan ampas tahu ini diinovasikan untuk menjadi edible spoon, sebab kandungan serat dan gizinya yang masih cukup tinggi," kata Reza kepada KoranKaltim.com, Selasa (30/8/2022).
Pada penelitian ini mereka memulai dari pengumpulan alat dan bahan hingga pembuatan edible spoon di laboratorium. Tentu, edible spoon ini menjadi terobosan baru dan potensinya sangat baik jika dikembangkan di masa akan datang.
"Karena sifatnya yang ramah lingkungan menjadikan edible spoon ini sebagai inovasi untuk masa depan yang mampu membuka inovasi produk ramah lingkungan lainnya juga sekaligus sebagai bentuk pelestarian lingkungan," tuturnya.
Reza menyebut ide dan inovasi ini bersumber dari adanya isu lingkungan seperti dampak pencemaran lingkungan yang disebabkan oleh sampah plastik yang sulit terurai, yang menyebabkan terjadinya pemanasan global, pencemaran perairan, pencemaran udara, dan menurunkan kesuburan tanah.
"Isu lingkungan yang sangat hangat diperbincangkan ini menjadikan salah satu hal yang melatar belakangi kami munculnya gagasan atau ide pembuatan edible spoon si sendok ramah lingkungan sebagai solusi lingkungan untuk masa depan," jelasnya.
Sebagai informasi, Tim PKM-RE yang terdiri dari lima orang mahasiswa Polnes diantaranya Reza Nofrialdy (D4 Teknologi Kimia Industri'19), Muamar (D4 Teknologi Kimia Industri'20),Tiara Priscilla (D4 Teknologi Kimia Industri'20),Irma Anjarwati (D3 Petro dan Oleo Kimia'20) dan Muhammad Rezky Nurdiansyah (D4 Teknologi Kimia Industri'20), dengan dibimbing oleh Noorma Kurnyawaty selaku Dosen Teknik Kimia Polnes ini pun berhasil lolos pendanaan dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi.
Penulis: */Faishal Ays
Editor: Maruly Zainuddin