Prof. Mukhamad Ilyasin menyampaikan pidato pengukuhan guru besar yang berjudul ‘Kepemimpinan Perubahan pada Lembaga Pendidikan Islam dan Pesantren; Berbasis pada Nilai Untuk Penguatan Kompetensi SDM’.
Menurut Ilyasin, kepemimpinan yang harus menjadi perhatian ialah bagaimana bisa mewujudkan kepemimpinan efektif dari ranah terkecil hingga terbesar . Pemimpin harus memberikan rasa kebutuhan akan perubahan kepada orang-orang dalam organisasi, mengumpulkan orang-orang tepat untuk membuat rencana organisasi, memberikan visi dan strategi yang jelas untuk mencapai perubahan yang dituju.
Baginya organisasi tidak bisa terus-menerus berada di tingkatan yang sama harus ada berjalan atau pindah ke tahapan selanjutnya. Artinya organisasi harus melakukan perubahan. Hal yang paling berat menurutnya membawa kesinambungan yang telah dirintis. Menjalankan kesinambungan dengan jalan istiqomah pun perlu kemauan dan kemampuan yang kuat.
“Oleh karenanya kalau kita berpikir mengenai perubahan, sepantasnya kita bertekad kuat dan menjalankan tugas kita menjaga satuan organisasi dan dinamisasi lembaga kita. Yang jauh lebih berat adalah menjaga apa yang kita rintis untuk tetap berjalan dan dinamis,” terangnya menutup pidato pengukuhan.
Selanjutnya, Ilyasin juga menyampaikan rasa syukurnya telah menduduki posisi saat ini. Selain tiga guru besar tersebut Ilyasin yang juga sebagai Rektor UINSI Samarinda menyampaikan di awal tahun 2023 mendatang akan ada nama-nama baru yang dikukuhkan sebagai guru besar.
Prof. Dr. Muhammad Nasir menyampaikan pidato pengukuhan guru besar dengan judul ‘Pengarusutamaan Kurikulum Rekonstruksi Sosial Kurikulum Merdeka Belajar Kampus Merdeka, dan Integrasi Ilmu Untuk Kelulusan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Unggul dan Kompetitif.
Nasir menilai untuk mewujudkan tema yang diangkat harus dilakukan dengan beberapa strategi diantaranya; memperkuat pelaksanaan sistem manajemen strategis (SMS), memaksimalkan seluruh bentuk dan standar proses pembelajaran yang diamanatkan oleh Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia Nomor 3 Tahun 2020, Membangun model pelaksanaan tridharma perguruan tinggi yang mengarusutamakan kurikulum integrasi ilmu, menyiapkan dosen unggul dan multi keahlian, melibatkan mahasiswa dalam penelitian dosen, memaksimalkan pengelolaan, penguatan struktur penguatan kurikulum merdeka belajar, dan kesiapan sumber pembiayaan yang memadai.
“Alhamdulillah sangat bahagia dan senang karena dihadiri banyak profesor dan keluarga. Harapan saya tentu lulusan PTKIN memiliki kompetensi, kualitas dan bisa bersaing dalam dunia global. Bisa berkompetisi dengan sikap yang bagus, punya pengetahuan luas, dan keterampilan khusus,” terang Nasir.
Sedangkan Prof. Alfitri dalam pidato pengukuhan guru besar dengan judul ‘Konstitusionalisasi Hukum Islam di Indonesia Melalui Mekanisme Pengujian Undang-Undang: Misi (Bukan) Mustahil? . Ia menilai bahwa menjadikan keputusan Mahkamah Konstitusi merupakan interpretasi resmi hukum Islam di Indonesia adalah misi mustahil yang bisa dilakukan. Dalam setiap pertimbangannya, konstitusi harus mengakomodir kewenangan dan doktrin hukum islam dengan memenuhi jaminan hak konstitusional dalam kerangka Negara berdasarkan prinsip ketuhanan yang Maha Esa.
Saat dijumpai Prof. Alfitri menyampaikan bahwa dirinya merasa lega karena proses pengajuan menjadi guru besar di Indonesia tidaklah mudah. Untuk mencapai gelarnya, Alfitri harus menunggu 1 setengah tahun dan dengan pencapaian tersebut ia berharap pemerintah bisa memberikan perhatian lebih kepada professor dalam menjalankan tugas penelitian selain itu tuntutan jabatan yang semakin padat.
Sementara Direktur Pendidikan Keagamaan Islam Prof. Dr. Suyitno, usai mengukuhkan 3 guru besar tersebut menyampaikan orasi ilmiahnya. Ia menyampaikan apresiasi atas lahirnya 3 guru besar sekaligus di UINSI Samarinda. Ia juga menjelaskan bahwa saat ini perguruan tinggi islam itu sudah bisa melahirkan produk guru besar sendiri.
“Alhamdulillah kita sudah bisa melahirkan produk guru besar orisinil. Artinya mensyukuri bahwa selama bertahun-tahun sejak zaman penjajahan sampai reformasi guru besar perguruan ilmu agama itu masih direkrut dan sekarang kita sudah bisa menghasilkan sendiri, itu patut disyukuri,” kata Suyitno. (*/kk)
Penulis: */Linda Mulyani
Editor: Supiansyah