Bukan tanpa alasan kalau MF yang murid kelas 4B ini tak bisa ikut belajar secara daring. Kondisi ekonomi keluarga membuatnya tak bisa membeli telepon seluler (ponsel).
Seperti diketahui, pandemic Covid-19 yang berlangsung sejak 2020 lalu membuat system pembelajaran di sekolah dialihkan secara online, belajar di rumah, yang mau tak mau membuat pelajar harus menggunakan ponsel.
Karena keterbatasan ekonomi dan kurang informasi membuat MF tidak dapat mengikuti pembelajaran secara daring tersebut.
Seorang relawan asal Samarinda bernama Kadir Jailani mendapati MF beberapa hari lalu saat duduk di tepi jalan sambil menangis tak jauh dari sekolahnya. Pria 28 tahun itu pun menghampiri MF.
"Saya hampiri dia, tanya kenapa nangis, terus dia bilang diusir dari kelas," kata Kadir kepada Korankaltim.com Kamis (2/6/2022) hari ini.
Kadir pun berkoordinasi dengan Tim Reaksi Cepat Perlindungan Perempuan dan Anak (TRC PPA) untuk bertemu dengan pihak sekolah terkait permasalah tersebut siang tadi.
Sayangnya sambutan yang diterima tim yang datang bersama awak media disambut dingin beberapa guru di sekolah tersebut. "Mereka ngomong ngapain datang ramai-ramai, bawa wartawan lagi, soal permasalahan ini kan sudah selesai," jelas Kadir.
Kepala Sekolah SDN 002 Sarban yang ditemui mengatakan dari pihak wali murid memang diakuinya tidak pernah menemui kepala sekolah, tetapi langsung menemui gurunya.
"Gurunya tidak ada koordinasi ke saya, jadi nanti akan saya panggil bagaimana kejadian sebenarnya, ya mudahan kedepannya bisa lebih baik lagi melayani dan mengayomi muridnya," ujar Sarban.
MF dipastikan Sarban tetap bisa mengikuti ujian apalagi tahun depan ajaran baru sudah tatap muka. Sebagai kepala sekolah dirinya akan merapatkan kembali, bagaimana kebijakannya bersama dengan para guru.
"Kalau soal masalah itu (diusir), saya tidak tahu, makanya kami akan panggil gurunya untuk diberikan pengarahan, kalau sanksi ya paling teguran dulu," sebut Sarban.
Terpisah, Ketua TRC PPA Kaltim Rina Zainun mengatakan jika dirinya datang untuk mengkonfirmasi terkait pemasalahan tersebut. Menurut keterangan yang mereka terima, selama kurang lebih setahun MF tidak mengikuti pelajaran secara onine.
"Anak ini sudah tidak memiliki ibu (meninggal dunia) dan ayahnya dipenjara. Dia dirawat sama tantenya, yang punya anak tiga dan merawat keponakan tiga orang, handphone hanya ada satu saja, sehingga tidak bisa mengikuti pembelajaran online," papar Rina.
Rari relawan makan gratis yang memfasilitasi masalah ini pun sudah membelikan perlengkapan sekolahnya, tetapi saat diantar ke sekolah, berbincang dengan guru, tetapi karena setahun tak mengikuti pembelajaran kemungkinan naik kelas tidak ada.
"Yang penting anak ini bisa mengikuti ujian, saat masuk kelas dia dibentak oleh gurunya, dengan nada tinggi dan kasar, itu pengakuan MF. Dia diminta keluar pulang panggil ibumu, padahal posisinya sedang ujian," ungkap Rina.
Menurutnya seorang guru tidak pantas berkata seperti itu kepada muridnya. "Kan seharusnya disampaikan dengan baik dengan nada rendah, diselesaikan dulu ujiannya, kalau seperti ini kan jadi ngedrop anaknya. Akhirnya dia keluar, tetapi ditarik tangannya oleh gurunya dan di dalam dia dibuli oleh temannya, dilempari kertas temannya, akhirnya dia pulang bercerita tidak mau lagi sekolah takut sama guru dan teman-temannya," paparnya lagi. Tim TRC PPA menyimpulkan pihak sekolah dan wali murid sama-sama salah.
"Kenapa dari wali murid tidak menyampaikan apa kesulitannya dan dari sekolah mengetahui murid tidak sekolah setahun, kenapa tidak ada kunjungan, apa permasalahan murid ini. Kami juga meminta siapa pun muridnya, kalau berbicara dengan baik, karena guru ini pengayom dan pendidik, guru yang melakukan itu mengaku salah, karena dia memiliki permasahan, tetapi ya tetap tidak dibenarkan, dan kemungkinan anak ini (MF) tidak akan bersekolah disitu, melihat sikap para gurunya," pungkas Rina.
Terpisah Kadisdik Kota Samarinda Asli Nuryadin saat dikonfirmasi mengaku belum mengetahui permasalahan tersebut. "Saya akan konfirmasi dulu ke kepala sekolahnya ya," singkatnya.
Penuli: Nancy
Editor: Aspian Nur