Pertama, pernyataan itu menggambarkan kualitas cara berpikirnya. Sama sekali tidak mencerminkan kualitas seorang terpelajar. Mereka yang kerap membangun argumentasi berdasarkan sentimen suku, agama, ras, dan antar golongan (SARA) adalah mereka yang berpikir dangkal.
Mencitrakan peradaban berdasarkan perbedaan biologis ras manusia, jelas merupakan tindakan rasis. Dan itu sangat disayangkan justru keluar dari mulut seorang guru besar sekaligus Rektor, yang notabene pihak yang seharusnya berdiri tegak menentang rasisme.
"Kita selalu menghargai perbedaan pendapat, tetapi tidak ada ruang bagi mereka yang rasis. Sebab pernyataan rasis adalah tanda mereka yang terbelakang, mereka yang justru tidak menghargai peradaban," tegas Castro sapaan Herdiansyah Hamzah kepada Korankaltim.com, Minggu (1/5/2022).
Kedua, yang disayangkan juga adalah pernyataan yang seolah-olah mengasosiasikan mahasiswa yang suka demo sebagai mahasiswa ber-IP rendah, bermasalah, dan bermasa depan suram.
Menurutnya, ini jelas pernyataan yang tidak pantas dan tendensius, yang terkesan mengerdilkan mahasiswa yang suka demo sebagai manusia rendahan dalam derajat akademik.
"Pernyataan ini jelas buta dan tuli terhadap makna kebebasan berpendapat. Padahal dari demonstrasi lah, sikap kritis mahasiswa ditempa. Dididik menjadi manusia yang memegang teguh prinsip, bukan menjadi manusia pembebek yang hanya pandai menjilat dan mengejar jabatan," tandasnya.
Sebagai informasi, Rektor ITK Budi Santosa Purwokartiko menulis pada laman Facebooknya bercerita saat berkesempatan mewawancarai mahasiswa yang mengikuti program LPDP.
Ia menyebut, tak satu pun mendapatkan peserta tersebut yang hobi demo. Dirinya turut membangga-banggakan karena mereka mahasiswa dengan IP yang tinggi di atas 3,5.
Kemudian, 12 mahasiswi yang ia wawancarai, tidak satu pun menutup kepala ala manusia gurun, otaknya openmind. Mereka mencari Tuhan ke negara-negara maju seperti Korea, Eropa Barat dan US. Bukan ke negara yang orang-orangnya pandai bercerita tanpa karya teknologi.
Penulis: Faishal Ays
Editor: Supiansyah