Kebakaran baru diketahui dari laporan masyarakat setempat, karena petugas penjaga sekolah tidak ada.
"Memang hampir semua sekolah kita itu kan penjaga malam yang gak ada, tapi penjaga sekolah yang biasa (pagi-sore) ada, biasanya dia merangkap menjaga sampai malam, cuma dia malam itu tidurnya di rumah," kata Kepala Dinas Pendidikan Kota Balikpapan, Muhaimin kepada awak media, Minggu (26/12/2021).
Untuk kerugian sendiri, Muhaimin menjelaskan data keseluruhan dari total kerusakan akibat kebakaran belum mendapatkan laporan validnya.
"Iya belum, masih belum dibuat laporan, tapi kalau dari analisa bangunannya itu ya sekitar antara Rp 900 sampai dengan Rp 1 miliar," bebernya.
Untuk memperbaiki bangunan sekolah tersebut, pihaknya akan mengajukan Dana Tak Terduga (DTT) ke Pemerintah Kota Balikpapan.
"Kami akan mengajukan DTT ke pemerintah kota, ke pak Wali Kota. Karena memang musibah kan," ucap Muhaimin.
Untuk mengantisipasi kejadian hal serupa, Muhaimin akan menggelar Rapat Koordinasi (Rakor) Senin (27/12/2021) bersama Kepala SD dan SMP se-Kota Balikpapan.
"Kita akan ingatkan kembali agar kepala sekolah itu mengecek terutama Instalasi listrik sekolah-sekolah, bukan sekolah yang cek tapi koordinasi dengan pihak PLN untuk dilakukan pengecekan terhadap instalasi listrik," jelasnya.
Hal itu dilakukan karena pada kebakaran itu terjadi karena korsleting listrik. Sekolah tersebut sudah berumur lama dan untuk pemeliharaan sendiri kurang diperhatikan.
"Anggarannya bisa diambil dari BOSS jadi tinggal kita minta di tahun 2022 seluruh sekolah mengalokasikan anggaran untuk pemeliharaan dan pengecekan instalasi listrik sekolah terutama sekolah-sekolah yang lama," pungkasnya.
Penulis : Muhammad Rizieq
Editor : Bambang Irawan