"Untuk antisipasi kejadian ke depan bukan hanya Disdik, tapi semua pihak wajib turun rembuk membantu," imbuhnya. Adanya keinginan relokasi SMPN 24 ke tempat yang lebih aman, usulan itu sudah diterima pihaknya, namun belum terencanakan, pasalnya masih banyak sekolah yang saat ini juga proses pembangunannya belum rampung.
"Memang ada juga ide atau usulan seperti itu, tapi itu solusi jangka panjang. SMPN 40, 45, 46 dan 48 saja masih belum selesai terbangun sampai saat ini," ungkapnya. Upaya Disdik Samarinda untuk saat ini agar endapan lumpur yang tebal dapat dibersihkan dengan melakukan koordinasi dengan instansi terkait, supaya dapat membantu dalam pembersihan itu. "Kami sudah lakukan koordinasi ke beberapa pihak, untuk dapat membantu membersihkan," sebutnya.
Senin (11/1/2021) besok beberapa unsur ikut turun membantu, seperti Disdamkar Samarinda, BPBD Samarinda, Serta Dinas PUPR Samarinda, hal ini akibat endapan lumpur yang sangat tebal tak mampu ditangani dengan cara manual. "Dinas PUPR akan menurunkan alat berat berupa ekskavator untuk membersihkan lumpur di sekolah, karena volume lumpur 10 sampai 15 centimeter," jelas Barlin lagi.
Meski pembelajaran melalui daring (dalam jaringan), namun belajar online juga terimbas akibat musibah yang melanda, sehingga Disdik Samarinda mengarahkan untuk proses belajar mengajar melalui TVRI. "Guru dan karyawan lain kami minta fokus pembersihan terlebih dahulu, belajar mengajar masih belum bisa berjalan normal, makanya kami arahkan belajar melalui TVRI," tutupnya. (*)
Penulis : Claudius Vico
Editor: Aspian Nur