Periset Lifepal Aulia Akbar mengatakan, diketahui sumber uang saku para mahasiswa 69,9 persen responden mengaku, uang saku yang mereka terima per bulan berasal dari pemberian orang tua. Sementara itu 9,5 persen lainnya berasal dari orangtua dan kerja paruh waktu, diikuti dengan pemberian orangtua dan sumber lain di angka 5,9 persen.
"Hanya ada 1 responden dalam survei ini yang sumber uang sakunya berasal dari penghasilan kerja penuh waktu dan paruh waktu saja," ujar Aulia kepada Korankaltim.com, Minggu (13/12/2020). Berdasarkan kebiasaan dalam penggunaannya, lanjut Aulia 57,5 persen mahasiswa mengaku bahwa uang saku yang diterima per bulan cukup atau selalu habis terpakai tak bersisa. Sementara itu hanya 33,5 persen lainnya yang berhasil memiliki surplus uang saku dalam sebulan.
Sebanyak 9 persen responden lain mengaku bahwa uang saku yang diterima tidak cukup, atau defisit.
"Ketika uang saku yang dimiliki berlebih setelah penggunaan dalam sebulan, 65,2 persen dari seluruh responden memilih untuk menyimpan uang tersebut di tabungan. Hanya 22,4 persen dari total responden yang akhirnya memilih untuk berinvestasi dengan membeli logam mulia, surat berharga, dan instrumen lainnya," beber Aulia.
Sedangkan sisanya, akan menghabiskan sisa uang saku untuk kegiatan konsumtif, 7,5 persen untuk belanja dan 5 persen lainnya untuk traveling. Bisa dikatakan bahwa, uang saku yang diterima mahasiswa per bulan berkurang di masa pandemi. Sebelum pandemi tiba, sebagian besar responden (59 persen) mengaku mereka menerima uang saku sebesar Rp 1 hingga 3 juta per bulan. Sementara itu 29,4 persen lainnya menerima uang saku di bawah Rp1 juta per bulan.
Di masa pandemi, jumlah responden yang menerima uang saku Rp1 hingga 3 juta per bulan menurun jadi 17,6 persen, sementara itu 71 persen responden atau sebagian besarnya yang mengaku menerima uang saku di bawah Rp1 juta per bulan. Terjadi perubahan yang cukup signifikan dari cara para pelajar mahasiswa menggunakan uang sakunya selama sebulan.
Hasil survei menunjukkan, pengeluaran terbesar mahasiswa per bulan, pada masa sebelum pandemi, didominasi oleh biaya makan dan minum sehari-hari. Namun di masa pandemi, pos pengeluaran terbesar mereka adalah pulsa dan kuota internet. Pengeluaran bulanan berupa sewa hunian (kos, apartemen, dan rumah) merupakan pengeluaran terbesar sebelum pandemi COVID-19 muncul.
Namun di masa pandemi, pengeluaran makan dan minum justru menempati posisi kedua terbesar setelah pulsa dan internet. Hanya 2,7 persen responden saja yang berpendapat bahwa sewa hunian masih tetap menjadi pengeluaran terbesar mereka dalam sebulan. Fenomena ini mengindikasikan banyak mahasiswa yang akhirnya memilih pulang ke rumah orangtuanya saja.
Covid-19 juga tentunya membuat aktivitas bersosialisasi yang kerap dilakukan mahasiswa dan rekan-rekannya di tempat-tempat umum menjadi berkurang. "Bisa disimpulkan bahwa, Covid-19 ternyata juga menimbulkan dampak tersendiri bagi para pelajar berstatus mahasiswa, dari uang saku hingga pola konsumsi mereka" tukasnya.
Survei dilakukan dengan metode random sampling terhadap 443 responden yang merupakan mahasiswa di seluruh wilayah Indonesia. Survei berlangsung pada 6 Oktober hingga 4 Desember 2020. Perbandingan jumlah responden dalam survei ini adalah, 144 responden pria dan 299 responden wanita.[]
Penulis/editor : Rusdi
Sumber : Riset Lifepal untuk Korankaltim.com