"Awal Desember siswa akan UAS semester ganjil. Andaikata sekolah tatap muka kembali, pembelajaran tak akan berjalan efektif dan optimal," kata Satriwan dalam keterangan pers yang diterima Republika pada Senin (16/11).
Satriwan menyebut, ketidakefektivan sekolah tatap muka sebelum tahun depan karena sejumlah faktor, diantaranya pembelajaran dibagi 2 shift, tidak boleh ada kegiatan ekstrakurikuler. Kemudian sekolah juga tidak boleh mengadakan kegiatan olahraga dan penutupan kantin sekolah.
"Hal ini sudah membuat interaksi siswa antar kelas sangat terbatas. Waktu belajar pun terbatas," ujar Satriwan. Satriwan memandang, aturan pelaksanaan pembelajaran di sekolah secara tatap muka sangat ketat untuk dipaksakan pada tahun ini. Ia meminta agar sekolah di daerah tidak memaksakan belajar tatap muka. "Kami tegaskan, lebih baik PJJ diteruskan sampai akhir tahun," ucap Satriwan.
Diketahui, perkembangan dinamis sebaran status zona Covid-19 Kota/Kabupaten di Indonesia, membuat daerah berstatus zona hijau dan kuning memberanikan diri membuka sekolah tatap muka. SKB 4 Menteri Tentang Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran Pada tahun Ajaran 2020/2021 memberikan kesempatan bagi sekolah di zona kuning dan hijau dibuka kembali tatap muka.
Dalam pantauan P2G secara nasional sampai 16 November 2020, ada peningkatan jumlah sekolah di daerah yang (akan) melakukan sekolah tatap muka. Rencana sekolah dibuka untuk tatap muka akan dilaksanakan mulai hari ini.
Editor : Bambang Irawan
Berita ini sudah tayang di republika.co.id hari Senin 16 November 2020 dengan judul : PJJ Disarankan Hingga Akhir Tahun