Sebanyak 25 pelajar Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Atas (SMA) di Kecamatan tersebut dilaporkan mengalami dugaan keracunan MBG dan
langsung dilarikan ke Puskesmas Waru. Dari 25 pelajar yang teridentifikasi mengalami gejala keracunan, 16 di antaranya laki-laki dan 9 perempuan.
Wakil Bupati PPU Abdul Waris Muin menyatakan pemerintah daerah akan segera melakukan evaluasi menyeluruh guna mencegah kejadian serupa terulang.
“Kasus seperti ini kadang di luar nalar, tapi inilah bukti segala sesuatu yang dianggap baik dan tidak baik tetap harus dievaluasi," kata Waris kepada Korankaltim.com.
Pogram MBG di wilayah lain telah berjalan baik selama dua hingga tiga bulan terakhir, namun di Waru diduga terdapat kekurangan dalam pengawasan, khususnya terkait menu tambahan seperti buah-buahan atau jenis makanan lainnya.
“Yang sudah berjalan dua sampai tiga bulan lalu baik-baik saja. Untuk MBG di Waru ada suatu hal, mungkin disitu masih kurang pengawasan dari segi menu tambahan, baik itu buah-buahannya atau sejenisnya,” jelas Waris lagi.
Pemerintah Kabupaten PPU berencana memanggil seluruh pihak yang terlibat, termasuk penyelenggara dan pihak terkait lainnya untuk mencari tahu penyebab pasti insiden tersebut. Ia juga membuka kemungkinan DPRD PPU turut melakukan pemanggilan karena ini baru pertama terjadi di Penajam.
“Pasti kami dari pemerintah akan memanggil untuk mengetahui penyebabnya apa,” sebutnya.
Sekretaris Daerah (Sekda) PPU selaku ketua koordinator sedang berada di luar daerah, setelah kembali pemerintah akan segera menyurati pihak-pihak terkait.
“Kalau besok datang kami segera menyurat dan melakukan evaluasi apa penyebabnya,” papar Waris.
Selama ini ia melakukan kontrol rutin terhadap pelaksanaan program MBG. Ia mengaku memantau laporan harian terkait makanan yang tidak dihabiskan siswa, kekurangan gizi, serta asupan vitamin.
“Saya tiap hari kontrol laporan dari anak-anak yang tidak menghabiskan makanannya, apa kekurangannya dan di mana letaknya sehingga anak-anak kekurangan gizi bahan vitamin. Setiap hari saya suruh foto tanpa diketahui SPPG-nya, saya kontrol melalui anak-anak di lapangan dan guru,” ungkapnya.
Namun, khusus untuk wilayah Waru, pengawasan langsung belum sempat dilakukan karena dirinya sedang mengikuti kegiatan di luar daerah.
Atas insiden tersebut, Waris menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh orang tua siswa yang terdampak. Ia menegaskan bahwa pemerintah tidak bermaksud lalai, namun akan tetap bertanggung jawab melakukan perbaikan sistem pengawasan.
“Kami minta maaf atas nama pemerintah. Bukan kelalaian, tapi faktor yang sama-sama tidak bisa kita justifikasi hanya satu kesalahan. Kami akan evaluasi sebaik mungkin agar anak-anak tetap sehat dan cerdas,” pungkasnya.
Editor : Aspian Nur