Ketua Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) Desa Sumber Sari, Alif Mustofa menjelaskan, dari data yang dihimpun terdapat seluas 328 hektare tanaman padi terdampak dan gagal panen.
Pada umumnya, lahan pertanian per hektarenya mampu menghasilkan 3 ton gabah kering sehingga total 984 ton potensi tanaman padi hilang imbas banjir.
“Kemudian jika dikonversikan dalam rupiah, dengan harga pasaran gabah kering sebesar Rp6.000 maka angka kerugian mencapai Rp5,9 miliar,” ujar Ali.
Banjir di Desa Sumber Sari juga merendam tanaman cabai dan semangka milik warga. Berdasarkan data tanaman cabai seluas 9,25 hektare dan semangka 8,5 hektare.
Kerugian petani cabai ditaksir mencapai Rp1,9 Miliar dan semangka sebesar Rp850 juta.
“Jika dijumlahkan secara keseluruhan, potensi ekonomi yang hilang dari sektor pertanian di Desa Sumber Sari mencapai Rp8,6 miliar,” akunya.
Alif mengaku bencana banjir di Desa Sumber Sari tak hanya kali ini terjadi.
Kejadian serupa pernah melanda pada 2021 lalu akibat luapan sungai di daerah tetangga.
Masyarakat Desa Sumber Sari berharap pemerintah daerah maupun pemerintah pusat untuk bisa membuat kebijakan preventif agar bencana banjir ini tidak terulang.
“Sebagai contoh, Bendung Gerak Telake yang sudah sejak lama diwacanakan untuk bisa segera direalisasikan,” pungkas Ali.
Editor: Aspian Nur