Masih kurangnya tenaga dokter ini, kata dia dapat misalnya di Puskesmas Penajam. Jumlah dokter di Puskesmas itu, hanya tiga. Sementara jumlah penduduknya lebih kurang 30 ribu jiwa. Artinya satu dokter berbanding dengan 10 ribu jiwa.
“Jika idealnya satu dokter hanya berbanding 4-5 ribu jiwa maka Puskesmas Penajam masih membutuhkan 3- 4 dokter lagi. Kurangnya tenaga dokter ini dampaknya tentu bermacam-macam seperti antrean terlalu lama, banyaknya rujukan dan sebagainya sehingga pelayanan kepada masyarakat kurang memuaskan,” ungkapnya.
Menanggapi pertanyaan tersebut, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten PPU, Arnold Wayong mengakui jumlah penduduk yang ada saat ini memang tidak sebanding dengan angka dokter di Kabupaten PPU. Oleh karenanya ia berharap pada tahun yang akan datang formasi CPNS untuk tenaga kesehatan khususnya dokter diadakan di Benuo Taka.
“Karena memang di beberapa Puskesmas yang berpenduduk padat seperti Penajam, Petung dan Babulu itu jumlah dokter kita relatif belum memenuhi standar sehingga ini dapat berpengaruh terhadap pelayanan kita kepada masyarakat,“ kata Arnold.
Jika memang standarnya satu dokter berbanding 4- 5 ribu penduduk tentunya ini dapat menjadi acuan. Tetapi acuan tersebut harus disinkronkan dengan ketentuan-ketentuan yang berlaku, baik di Kementerian Kesehatan maupun pada analisis tugas, analisis beban kerja terkait beban kerja pada Puskesmas yang ada.
“Semoga analisis dari tim kesehatan betul-betul bisa untuk memenuhi formasi ini. Yang jelas kami juga sudah mengajukan formasi ini ke Menpan RB sekitar akhir bulan lalu. Sehingga dengan diusulkannya kebutuhan ini tentunya kita berharap formasi ini dapat segera terpenuhi,” harap Asisten III Pemkab PPU, Surodal Santoso.[]
Penulis : Erwin
Editor : Rusdi
*Berita ini, telah terbit di Koran Kaltim versi cetak, edisi Kamis 1 Oktober 2020, dengan judul "PPU Masih Kekurangan Dokter"