“Bentuk pendampingannya itu, terutama tenaga ahli dari Australia yang akan melatih kita, peternak dan sebagainya, dengan kaitan masalah pakan, reproduksi, seperti masalah perkawinan, dengan kawin alam, inseminasi buatan maupun perawatan bedet,” ungkap Kabid Peternakan dan Kesehatan Hewan Dinas Pertanian PPU, Arief Murdiyatno, Jum’at (2/1).
Selain pendampingan, pada April nanti warga Australia juga akan melakukan kajian layak atau tidaknya sapi Brahman Cross dikembangbiakan di Indonesia.
Selain itu, Dinas Pertanian Kabupaten PPU meminta untuk dibantu mengenai analisa usaha sapi Brahman Cross agar dapat menjadi acuan peternak terkait keuntungan yang didapatkan ketika memelihara sapi yang beratnya dapat mencapai 1 ton itu.
“Kalau menguntungkan, otomatis kami akan menjadikan bahan sosialisasi kepada masyarakat kalau sapi Brahman Cross cocok dikembangkan di PPU,” ujarnya.
Arief menjelaskan harga jual sapi Brahman Cross jauh lebih mahal dari sapi lokal, karena ukurannya yang lebih besar. Per ekornya bisa mencapai Rp25 juta.
“Cuma kalau untuk konsumen baru perlu merubah mindset, karena selama ini konsumen terbisa dengan daging sapi Bali, makanya akan terus disosialisasikan agar dapat diterima di pasaran, terutama di rumah potong hewan supaya nanti bisa jadi substitusi dari pada produk sapi Bali kita,” pungkasnya.
Selama ini, sapi Brahman Cross dikembangkan di Kecamatan Babulu dan Sepaku dengan populasi 1.000 ekor lebih. (wn1017)