Walikota Samarinda dua periode ini mengakui jika program pemerintah pusat untuk meningkatkan derajat kesehatan warga ini memang sangat bagus dan perlu didukung pula di level daerah. Bahkan di Samarinda sendiri, sudah lama menerapkan program ini. Tepatnya tahun 2012 lalu.
Untuk lebih mempertegas itu, Jaang bahkan sudah menerbitkan Peraturan Wali Kota (Perwali) Samarinda Nomor 51 Tahun 2012 tentang kawasan tanpa asap rokok. Di dalamnya telah mengatur jelas soal kawasan publik mana saja yang tidak diperolehkan ada asap rokok.
Salah satunya di lingkungan kantor pemerintahan. Dengan pertimbangan bahwa aparatur pemerintah selama ini menjadi figur panutan bagi masyarakat umum, sehingga larangan merokok di kawasan publik tertentu itu bisa dimulai oleh para pegawai.
Harapannya nanti bisa menjadi budaya baik sehingga menular secara luas ke masyarakat umum.
"Kita berkomitmen untuk menegakkan kawasan tanpa asap rokok di Samarinda. Nanti kita akan terus maksimalkan sosialisasi," ujar Jaang di sela-sela kegiatan.
Kata dia, Provinsi Kaltim yang mendapatkan penghargaan bersama beberapa provinsi lain di puncak peringatan hari tanpa tembakau sedunia 2019 ini juga karena terdukung oleh sejumlah kabupaten/kota yang ada di Benua Etam. Termasuk Samarinda sendiri yang memang sudah memiliki Perwali khusus soal kawasan tanpa asap rokok.
"Untuk implementasinya sudah berjalan, terutama di sejumlah kantor pelayanan publik seperti Puskesmas dan kantor pemerintah. Akan tetapi ke depan perlu ditingkatkan dengan menyediakan tempat khusus bagi para perokok," terang Jaang didampingi Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Samarinda, Rustam.
"Di sisi lain, kita juga mengharapkan perilaku hidup sehat dari masyarakat. Salah satu yang paling nyata adalah dengan tidak merokok di dalam rumah," tambah Rustam.
Sementara Menteri Kesehatan, Nila Moeloek menyebut banyak penyakit yang dipicu akibat tembakau, mulai hipertensi hingga penyakit jantung. Bahkan penyakit jantung cukup mendominasi para pasien yang selama ini tercover dengan program jaminan kesehatan. Akibatnya, cukup banyak pula anggaran perintah yang terkuras untuk membayar jaminan kesehatan masyarakat.
"Makanya kita imbau supaya tinggalkan kebiasaan merokok. Sayangi keluargamu. Karena berapapun anggaran jaminan kesehatan yang disiapkan pemerintah, akan menjadi sia-sia jika tidak terdukung dengan pola hidup sehat dari masyarakat sendiri," katanya.
Selain meninggalkan kebiasaan merokok, Nila juga mengimbau untuk menjaga pola hidup. Terutama dalam mengkonsumsi makanan. Diharapkan agar bisa mengimbangi zat gizi yang terkandung dalam setiap makanan yang dikonsumsi.
"Mengkonsumsi ikan juga sangat baik untuk kesehatan. Nanti mau saya usulkan ke Ibu Susi (Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti, Red). Yang tidak suka makan ikan itu tenggelamkan saja," kata Nila dengan nada sedikit bercanda. (adv/kmf3)