Mengawali pertemuan tersebut, Bupati Fahmi Fadli menegaskan diperlukam langkah konkret untuk mendapatkan solusi dari kondisi onflasi saat ini. Sehingga kestabilan perekonomian daerah bisa terjaga.
“Lakukan evaluasi dan segera temukan solusi konkret sebagai pondasi lokal dan berkelanjutan, sehingga tidak terjadi inflasi,” ucap Fahmi Fadli.
Pada April lalu, pemerintah Kabupaten Paser juga telah menggelar pertemuan serupa. Untuk itu, pada pertemuan kali ini, Fahmi Fadli berharap dapat menjadi dasar perekonomian yang berbasis potensi tidak membebani masyarakat.
“Kami harap, akhir tahun ini maupun tahun-tahun tinggi ke depan tidak lagi mengakibatkan beban masyarakat semakin berat,” harapnya.
Lumpuhnya perekonomian semakin terasa, setelah sebelumnya dunia tengah dilanda pandemi Covid-19. Usai pandemi berakhir, baru saja dilakukan upaya guna penguatan perekonomian. Kini kembali harus berupaya untuk meperbaiki perekonomian saat harga Bahan Bakar Minyak (BBM) juga mengalami kenaikan.
Ia menilai, dinamika inflasi terjadi di daerah sangat fluktuatif di mana rendahnya keterhubungan antar daerah, belum padunya koordinasi lintas instansi pemerintah dari pusat sampai daerah, belum kompetitifnya struktur pasar dan tata niaga khususnya komoditas harga bahan terhadap barang dan jasa yang dibayangi oleh berbagai permasalahan struktural. Hal tersebut perlu segera ditangani dan dilakukan perbaikan, sehingga anstisipasi melalui program didaerah bisa dilakukan.
“Perlu strategi khusus untuk mencari solusi dalam upaya meningkatkan pertumbuhan perekonomian,” ujarnya.
Dikatakan bupati, bahwa peran pemerintah daerah dalam mendukung terjaganya stabilitas perekonomian sangatlah penting. Sehingga harga kebutuhan pokok dan ketersediaan pangan tetap terjaga. Secara tidak langsung pemerintah daerah juga telah menjaga ketahanan pangan nasional.
Dalam kerangka otonomi daerah menjadi tumpuan untuk turut mengatasi berbagai permasalahan. Menyadari hal tersebut perlu dilakukan identifikasi terhadap penyebab utama inflasi di daerah sebagai faktor yang bersifat non moneter seperti operasi fiskal daerah atau pendapatan dan pengeluaran rutin dan ongkos transportasi dan daya beli masyarakat, ditambah lagi dengan adanya kenaikan harga BBM beberapa waktu lalu.
“Setiap faktor penyebab terjadinya inflasi perlu diidentifikasi, terlebih lagi pemerintah daerah menjadi tumpuan guna mengatasi berbagai masalah,” ungkapnya.
Selain itu, penomena musiman sepertinya juga masih berpengaruh signifikan terhadap kondisi harga serta ketersediaan bahan pangan kebutuhan pokok masyarakat. Kondisi tersebut hampir selalu terjadi pada momen-momen tertentu bulan Ramadhan dan menjelang lebaran mulai dari kelangkaan minyak goreng, kemudian bahan pokok di pasaran.
“Naiknya harga beberapa kebutuhan menjadi perhatian kita bersama, hal tersebut perlu ditekan sehingga tidak memberatkan masyarakat,” tegasnya.
Kepala KPw Bank Indonesia (BI) Balikpapan, Bambang Setyo Pambudi yang hadir dalam kegiatan tersebut mengatakan guna mengantisipasi dan meningkatkan perekonomian masyarakat diperlukan upaya inovatif. Salah satunya rencana peluncuran Pasar Siap Qriss, yang direncanakan di Plaza Kandilo.
“Harus ada upaya inovatif yang diluncurkan, salah satunya nanti akan di resmikan pasar siap Qriss di Kabupaten Paser,” ungkapnya. (adv)