Jasri yang juga merupakan ketua Kelompok tani Awak Peyembolum menyampaikan awal beternak, pihaknya dalam kelompok bermodalkan 200 log lebah kelulut.
"Sejak awal kami memulai dengan 200 log atau 200 rumah lebah, alhamdulillah seluruhnya terisi. Namun karena lokasi log ini berada di hutan, jadi masih banyak yang rusak karena hama," ucap Jasri, Kamis (14/7/2022).
Hama yang dimaksudkan ialah hewan hutan. Seperti, beruk, cicak, dan semut seling badak. Sering kali sarang mengalami kerusakan dan madu tidak bisa diproduksi.
"Akhirnya sisa log yang ada kami bawa ke pekarangan rumah warga saja, supaya lebih mudah menjaga," ungkapnya.
Saat ini tersisa 82 log yang masih produktif. Berkaitan dengan penghasilan madu oleh lebah. Ia menjelaskan bergantung pada suasana sarang lebah dan musim.
"Kalau sarangnya aman dan lingkungan untuk mencari makan lebah mudah hasilnya juga akan cepat. Ditambah lagi musim kembang," jelasnya.
Di tahun pertama ini, ia mengaku sudah menghasilkan 35 liter madu kelulut dari 82 log lebah yang tersisa.
Pihaknya tidak bertindak sendiri untuk mengembangkan lebah kelukut tersebut, melainkan bekerja sama dengan Kelompok Tani Hutan (KTH) Awa Penyembolum dan dibina oleh dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Paser. Terlebih lagi untuk pemasaran hasil produknya.
"Saat ini kami sebagai petani yang berusaha menghasilkan madu sebaik mungkin. Untuk pemasaran kami sudah koordinasikan dengan pengelola dari DLH. Alhamdulillah hasilnya cukup lumayan," ungkapnya.
Ke depan ia berharap, bisa mendapatkan solusi berkaitan dengan adanya hama yang sering mengganggu sarang lebah. Sehingga produksi madu lebah kelulut bisa lebih berkembang.
"Semoga saja ada formula yang baik untuk mengatasi hama ini," harapnya mengakhiri. (adv)
Penulis: Dwi Cahyo
Editor: Supiansyah