Adapun bibit yang digunakan oleh petani berupa bibit unggulan yang tahan dengan kondisi kemarau, hujan serta hama. Bahkan, beras yang dihasilkan oleh petani sangat baik beraroma wangi dan pulen ketika disantap. “Kita menggunakan bibit yang berkualitas dan unggul,” tuturnya.
Sejumlah upaya juga telah dilakukan Pemkab Mahulu untuk semakin memperluas lahan produksi pertanian, seperti memberikan pelatihan kepada petani mengenai cara membuat pupuk dan juga mendorong masyarakat membuka lahan.
Tanggapan dari masyarakat sendiri terhadap program ini sangatlah positif karena keberhasilan dari tahun sebelumnya dengan teknik tradisional. “Masyarakat sangat positif menyikapinya,”tambahnya.
Pola ladang menetap yang diterapkan petani juga membuat kurangnya kerusakan pada hutan,tidak perlu membakar dan memotong pohon untuk berpindah pindah ladang. Kondisi ini membuat petani bisa fokus ke satu ladang saja.
Saat ini saja, pembakaran lahan untuk membuka ladang sudah berkurang, meski petani mandiri yang kurang menggunakan teknologi secara maksimal dalam menggarap lahan dan terkait keterbatasan biaya biasanya akan terus membuka lahan untuk berpindah pindah.
“Untuk tahun depan belum bisa dibilang tidak ada pembakaran lagi, karena banyak petani mandiri yang tidak menggunakan teknologi dengan penuh karena keterbatasan dana,” tutupnya. (Adv)
Penulis: Jerry Lukas
Editor: Maruly Zainuddin