Bupati Kukar Aulia Rahman Basri menjelaskan program ini merupakan dedikasi Kukar Idaman Terbaik, yang ditujukan untuk pembangunan kawasan-kawasan strategis/khusus untuk mempersiapkan simpul kegiatan ekonomi yang efektif dan efisien, berbasis pada sumber daya ekonomi terbarukan, dengan membangun pola hubungan industri hulu dan hilir yang produktif, dalam satu kesatuan wilayah ekonomi potensial, dengan tujuan menciptakan suatu ekosistem perekonomian wilayah yang menjangkau seluruh potensi daerah secara terintegrasi dan terstruktur dalam bingkai rantai nilai yang saling terkait, dengan melakukan serangkain kegiatan, mulai dari penyiapan lahan, SDM, sarana dan prasarana, jaringan logistik, tata kelola pengairan, hingga kelembagaan yang disusun dalam satu kesatuan dokumen perencanaan yang dilaksanakan secara fokus, gradual dan berkesinambungan.
Salah satu rencana konkret untuk mendukung program dedikasi tersebut yaitu dengan melakukan pembangunan jembatan utama yang menghubungkan kabupaten/kota seperti fungsi Jembatan Kartanegara di Kota Tenggarong.
“Pembangunan jembatan ini turut mendukung target pembangunan Kawasan Ekonomi Sejahtera (KES) yang berada pada 3 zonasi tematik RPJPD, yakni KES I pengembangan perkotaan pusat perdagangan dan jasa, KES II untuk industri hijau dan KES III sebagai pusat pangan dan pariwisata,” jelas Bupati.
Ditambahkan Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU), Wiyono melalui Kepala Bidang Bina Marga, Linda Juniarti bahwa pembangunan jembatan untuk mengantisipasi kemacetan, saat tengah melakukan perawatan Jembatan Kartanegara.
“Pembangunan jembatan diperlukan feasibility study (FS) atau studi kelayakan, baik itu lokasi, efisiensi maupun lainnya. Tahun depan (2026, red) telah dialokasikan FS itu sendiri. Untuk menentukan lokasi dan lainnya,” ujarnya.
Menurutnya, pembangunan jembatan penghubung antar kabupaten/kota ini sangat diperlukan. Berdasarkan hasil evaluasi, saat pemerintah daerah sedang melakukan perawatan Jembatan Kartanegara terjadi kemacetan panjang.
Sehingga sejumlah pengendara mengeluh atas kemacetan yang terjadi akibat perawatan jembatan. Padahal saat itu jembatan tidak ditutup total, tapi menerapkan sistem satu jalur bergantian.
“Untuk pembangunan jembatan itu, melihat dari kemampuan keuangan daerah. Kita belum bisa memastikan kapan bisa terlaksana,” ungkapnya.
Ia memaparkan, dari informasi yang diterima bahwa keuangan daerah lagi menurun. Awalnya mencapai Rp 7 triliun, namun diproyeksi bisa kembali menurun. Artinya, anggaran Dinas PU Kukar yang telah diplotkan untuk 2026, pasti mengalami perubahan.
“Sementara untuk bidang kami, anggaran di 2026 hanya Rp 400 miliar. Itu sangat kurang untuk percepatan pembangunan infrastruktur,” paparnya.
Salah seorang warga Tenggarong, Yananta Triwibowo berpendapat, jembatan penghubung antar kota/kabupaten sangat diperlukan, terlebih bagi dirinya yang berprofesi di jasa angkut barang.
Menurutnya pemerintah bisa membangun di Desa Loa Pari Kecamatan Tenggarong Seberang menuju Kelurahan Mangkurawang atau Kecamatan Loa Kulu, yang tak jauh dari Jembatan Kartanegara utama
“Jangan sampai ketika jembatan utama dilakukan perbaikan, itu menimbulkan dampak yang luar biasa atau merugikan, dulu pernah ada wacana di Mangkurawang atau Loa Kulu, semoga bisa terealisasi,” harap Yananta. (Adv)
Editor: Erwin