Salah satunya adalah Program Pembangunan Kawasan Ekonomi Sejahtera (KES) yang berfokus pada pengembangan kawasan strategis atau khusus sebagai simpul kegiatan ekonomi yang efektif dan efisien.
Program ini berbasis pada sumber daya ekonomi terbarukan, dengan membangun pola hubungan industri hulu dan hilir yang produktif dalam satu kesatuan wilayah ekonomi potensial. Tujuannya untuk menciptakan ekosistem perekonomian daerah yang mampu menjangkau seluruh potensi wilayah secara terintegrasi dan terstruktur, melalui rantai nilai yang saling terkait.
Rangkaian kegiatan pembangunan KES meliputi penyiapan lahan, pengembangan SDM, pembangunan sarana dan prasarana (sapras), jaringan logistik, tata kelola pengairan, hingga pembentukan kelembagaan. Seluruhnya dituangkan dalam satu dokumen perencanaan yang dilaksanakan secara fokus, bertahap, dan berkesinambungan.
Bupati Kukar Aulia Rahman Basri menyebutkan adapun target pembangunan KES, tersebut berada pada tiga zonasi tematik Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD).
“Tiga zonasi KES yang dimaksud yaitu KES I Pengembangan Perkotaan Pusat Perdagangan dan Jasa, KES II Industri Hijau dan KES III Pusat Pangan dan Pariwisata,” kata Bupati.
Sejalan dengan program dedikasi Kukar Idaman Terbaik ini, Dinas Ketahanan Pangan (Disketapang) Kukar mengalokasikan anggaran sebesar Rp10 miliar untuk pemenuhan sapras ketahanan pangan.
“Sapras tersebut berupa 100 unit lantai jemur, lumbung pangan hingga pembangunan Rice Milling Unit (RMU),” ungkap Plt. Kepala Disketapang Kukar, Ananias.
Ia melanjutkan, terkait infrastruktur cadangan pangan, Kukar ada lumbung pangan di lima lokasi yang dibangun pada 2025, di antaranya Kecamatan Tenggarong, Loa Kulu ada dua, yakni Desa Sumber Sari dan Sungai Payang, Sebulu dan Kecamatan Marangkayu.
"Kemudian kita juga ada pembangunan lantai jemur, ada lantai jemur UV, ada juga lantai jemur biasa. Kemudian pengadaan RMU juga ada, termasuk rumah untuk RMU-nya, untuk pengilingan padinya," ujarnya.
Untuk APBD Perubahan ini, Disketapang memulai untuk inovasi yang terbaru, yaitu lantai jemur portabel. Lantai jemur portabel ini sekitar 100 unit untuk masyarakat.
"Mudah-mudahan dengan adanya lantai jemur portabel ini bisa membantu pasca panen. Karena rata-rata petani kita ini kan terkendala pada saat penjemuran. Lantai jemur portabel 100 unit, nanti kita bagikan beberapa unit kepada kelompok tani yang sudah membuat permohonan bantuan. Dengan bantuan ini paling tidak untuk memangkas jarak dari sawah ke lantai jemur," sebut Ananias.
Adanya lantai jemur portabel yang jumlahnya banyak dapat mendekatkan ke lokasi lahan pertanian, langsung di sawah sehingga memangkas jarak tempuh dari lahan budidaya ke penjemurannya.
Kemudian lantai jemur portabel ini tidak memerlukan hibah lahan karena bisa diangkat dan dipindahkan, sehingga masyarakat dapat secara swadaya membuat apa untuk alas lantai jemurnya.
Pada saat mereka ingin menjemur, langsung ditaruh di tempat mereka. Jika anggota lain juga memerlukan bisa diangkat, dipindahkan sehingga petani tidak perlu kehilangan lahan untuk pembangunan lantai jemur.
“Sehingga petani juga lebih dimudahkan. Pemda juga tidak perlu pusing mencari lahan untuk pembangunan. Program ini menjadi salah satu inovasi Dinas Ketahanan Pangan dalam penyediaan infrastruktur kemandirian pangan, yaitu lantai jemur portabel,” tegasnya. (Adv)
Editor: Erwin