Sakti, warga sekitar menjadi orang pertama yang menyaksikan api dari dalam rumah tersebut. Ia melihat kobaran api sesaat setelah pulang dari masjid. “Awalnya saya melihat api dari dalam saat pulang dari masjid usai salat subuh dan apinya sudah mulai membesar,” kata Sakti saat ditemui di lokasi.
Melihat kondisi itu, Sakti langsung mengambil tindakan cepat dengan membangunkan warga sekitar untuk meminta bantuan. “Inisiatif saya membangunkan tetangga-tetangga, setelah itu saya langsung telepon petugas dinas pemadam kebakaran agar cepat dilakukan penanganan,” tambahnya.
Warga sempat melakukan pemadaman manual menggunakan ember sebelum petugas tiba. Api disebutnya terlihat pertama kali dari bagian depan bangunan. “Warga hanya menyiramkan air menggunakan ember sambil menunggu petugas,” katanya.
Ketua RT 28 Kuswanto menyebut rumah yang terbakar dalam kondisi tidak berpenghuni. “Saya kurang tahu persis asal mula terjadinya kebakaran. Setahu kami rumah yang terbakar itu kosong,” ujarnya.
Pemilik rumah sendiri diketahui memiliki usaha di Kutai Barat dan hanya sesekali pulang ke Samarinda. Narahubung Disdamkar Kota Samarinda Hery Suhendra menjelaskan, akses menuju titik api cukup menyulitkan armada.
“Akses menuju lokasi agak susah karena banyak persimpangan. Armada besar susah masuk, ditambah kendaraan parkir di bahu jalan mempersempit jalur,” kata Hery.
Petugas damkar akhirnya menggelar selang hingga tiga roll untuk menjangkau titik api. Proses pemadaman berlangsung sekitar 45 menit. “Dugaan sementara penyebab kebakaran adalah arus pendek karena rumah itu kosong,” pungkas Hery.
Editor: Aspian Nur