Informasi yang dihimpun media ini, keduanya ditemukan di dalam palka kapal, dengan bendera Panama. Menurut keterangan Kepala Cabang Samarinda PT Triyasa Pirsa Utama Edy Irawan, keduanya terjatuh saat akan mengambil sample batu bara dari palka kapal, yang tengah melakukan pemuatan di perairan Muara Berau.
"Itu informasi dari leader sampling, mereka mengalami sesak nafas karena menghirup gas kimia dari batu bara," jelas Edy kepada Korankaltim.com.
Ketinggian palka kapal sendiri ke dasar diperkirakan 20 meter. Karena aroma gas kimia batu bara begitu kuat, Wahyu yang berada paling bawah akhirnya pingsan dan kemudian terjatuh ke dasar. Sementara Maulana yang sudah nyaris tiba di pintu palka, berniat menolong rekannya itu namun justru menjadi korban kedua dan terjatuh.
Edy yang mengetahui informasi itu langsung memberitahu manajemen perusahaan yang berada di pusat dan terkait dengan kecelakaan kerja ini perusahaan akan bertanggung jawab sepenuhnya.
"Kami berharap kejadian ini dapat diambil hikmahnya, khususnya kami pihak perusahaan. Mudah-mudahan ke depannya tidak ada lagi kejadian seperti ini," ujar Edy saat ditemui di Rumah Sakit Umum Daerah Abdoel Wahab Sjahranie (AWS) Senin (1/5/2023) hari ini.
Sementara Jumadi ayah almarhum Wahyu mengatakan ia tak mendapatkan firasat apapun terkait dengan insiden yang menimpa putranya itu.
Sang anak disebutkannya berangkat ke Muara Berau sejak Kamis (27/4/2023) lalu dan telah meminta izin kepadanya. "Dia kerja sudah sekitar enam bulanan," jelas Jumadi.
Disebutkan pria 54 tahun itu, malam sebelum sebelum kejadian ia mengaku tak bisa tidur nyenyak. "Saya malamnya tidak bisa tidur kemudian dapat informasi dari manajer kalau anak saya sudah tidak ada (meninggal)," ucap Jumadi dengan nada sedih.
Dikonfirmasi terkait insiden tersebut, Kapolresta Samarinda Kombes Pol Ary Fadli melalui Kapolsek Kawasan Pelabuhan (KP) Kompol Subari mengatakan pihaknya masih melakukan penyelidikan. "Ini masih kami lakukan penyelidikan," kata Subari singkat.
Editor: Aspian Nur