Pelaku menerangkan kepada korban bahwa ini belum waktunya, namun korban tetap melontarkan kata-kata kasar.
Korban sempat dorong-dorongan dengan pelaku dan anak korban, bahkan istrinya dimaki-maki korban. Hingga akhirnya anak pelaku ditantang duel dengan korban, pelaku berinisiatif mendorong korban ke jalan luas tak jauh dari depan rumahnya
"Saat itu, saya jauhkan badannya terhadap anak saya supaya aman, Namun malah didorong dan dipukul dada saya. Dari situ saya mulai gelap mata," kata CT.
Setelah itu, dia langsung berlari mengambil parang kemudian menebaskannya ke pinggang kiri korban. Kemudian korban berlari ke jalan ke arah yang buntu, kemudian dia pun kembali menebaskan parang tersebut ke arah kepala dan tengkuk korban. Setelahnya CT lupa sudah berapa tebasan yang dilayangkannya ke korban.
Setelah itu dia mengambil sepeda motornya dan berlalu begitu saja meninggalkan TKP sembari membawa parang tersebut.
Dia mengaku sempat kesulitan mencari kantor Polsek Tenggarong, sempat berkeliling hingga kehausan dan meminta minum kepada salah satu pemilik warung, kemudian ke pasar tangga arung hingga akhirnya ketemu Polsek di jalan Muso Salim Kelurahan Melayu, Tenggarong.
CT mengungkapkan, sebenarnya tidak pernah bermasalah dengan orang lain. Memang kata dia, utang tersebut sempat nunggak tiga bulan dan diupayakan dicicil sebisanya. Bahkan dia menyebut sudah berkoordinasi dengan pihak koperasi tempat dia meminjam sejumlah uang.
Bahkan diungkapkannya, berbagai intimidasi baik secara langsung maupun melalui pesan singkat sudah sering dilakukan korban dalam beberapa waktu terakhir.
"Gak tau kenapa dengan tukang tagih satu ini. Sebelumnya sudah pernah terjadi konflik yakni anak saya pernah dilempar dengan sepatu, namun sudah berdamai waktu itu," ujarnya.
Penulis: Reza Fahlevi
Editor : Bambang Irawan