“Waktu itu yang diamankan ada enam orang, salah satunya itu (Suroso) kan pemilik kontrakan. Sudah kami mintai keterangan dan tidak bisa kita buktikan keterlibatannya, makanya kita pulangkan,” kata Kasat Reskrim Polresta Samarinda, Kompol Sudarsono, Senin (29/10).
Kemarin, polisi melakukan press release atas pengungkapan kasus tersebut. Dari lima orang tersangka, hanya ada tiga yang ditampilkan polisi di hadapan awak media, yakni Edi Marlianyoni (34) Asnurin (43) Ansori (23). Mereka tampak mengalami luka tembak di kaki.
“Dua masih menjalani perawatan di rumah sakit karena luka tembak,” kata Kapolresta Samarinda, Kombes Pol Vendra Riviyanto.
Dua orang yang dirawat di RS tersebut adalah Badri (30) dan Melan (31). Pelaku mengalami luka tembak di kaki dan pinggang.
Vendra menyebut, komplotan tersebut terdapat enam orang pelaku, namun satu masih dalam pengejaran polisi. Saat melancarkan aksinya, mereka saling membagi tugas, yakni berjaga di depan ATM, ada yang melakukan transaksi di ATM dan ada yang bertugas mematikan aliran listrik.
“Mereka memasukkan ATM, saat mesin sudah berputar, mereka mematikan aliran listrik. Mereka lalu menggunakan alat penjepit untuk mengambil uang melalui lubang tempat keluarya uang di ATM,” ujar Vendra.
Polisi telah mengamankan sebuah alat penjepit berupa besi. Namun, tidak semua mesin ATM bisa dilakukan pencurian dengan modus tersebut. “Mereka adalah jaringan antar pulau, mereka rata-rata berdomisili di Lampung dan mereka melakukan pencurian di 16 ATM di Samarinda,” beber Vendra.
Dia menyebut, cara pelaku mengambil uang tersebut adalah modus baru. Diberitakan sebelumnya, para pelaku ditangkap di kawasan Samarinda Seberang. Lima orang pelaku tersebut langsung dihadiahi timah panas oleh polisi. (dor)