Larangan Ekspor CPO Dicabut, Petani Kelapa Sawit di Kabupaten Paser Terbantu
1 menit baca633 kali dibaca

KORANKALTIM.COM, TANA PASER - Presiden Joko Widodo resmi mencabut larangan ekspor minyak goreng dan juga Crude Palm Oil (CPO) sejak Senin (23/5) hari ini.
Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Kabupaten Paser pun menyambut positif.
Pengurus Apkasindo Paser Selamat bersyukur dan berterima kasih kepada Jokwi dan kepala daerah yang telah mendengarkan harapan dan aspirasi petani kelapa sawit.
“Bupati, gubernur dan presiden telah mengabulkan keinginan besar petani. Tentu kami sangat terbantu dengan kebijakan ini. Semoga saja ini bisa menjadi awal kebangkitan petani kelapa sawit di Paser,” ucap Selamat.
Diharapkan anjloknya harga kelapa sawit di Paser tidak lagi terjadi sehingga secara bertahap kesejahteraan petani kelapa sawit juga bisa terwujud.
“Semoga kejadian seperti ini tidak terulang. Kami yakin dengan dukungan dari pemerintah petani akan sejahtera,” ujar Selamat lagi.
Masyarakat Paser juga masih didominasi dengan sektor perkebunan kelapa sawit. Ia meyakini dengan dibukanya kran ekspor akan meningkatkan harga Tandan Buah Segar (TBS). “Secara bertahap, harga TBS kelapa sawit juga akan mengalami peningkatan. Kami harap ini menjadi motivasi bagi petani kelapa sawit,” pungkasnya.
Sementara Ketua Asosiasi Sawit Rakyat Mandiri Berau Mupit Datusahlan mengatakan kebijakan Presiden untuk kembali membuka kran ekspor belum bisa memulihkan harga BTS, yang saat ini berada di kisaran Rp2.645 dari sebelumnya Rp3.100 per kg. “Jadi penurunan yang terjadi lumayan besar bagi kami yang menggantungkan hidup dari kebun kelapa sawit,” ucap Mupit.
Mupit menuding pihak perusahaan menetapkan harga TBS secara sepihak dan tidak memperhatikan penetapan harga yang telah dilakukan pemerintah provinsi. Dirinya meminta persoalan ini harus disikapi secara serius oleh Pemkab Berau. Pasalnya, perjuangan petani sawit mandiri harus jadi perhatian.
Penulis: */Dwi Cahyo
Editor: Aspian Nur










