Namun, hingga saat ini pelaksanaan program tersebut di berbagai kabupaten dan kota di Kaltim baru mencapai sekitar 30 hingga 40 persen.
Sekretaris Umum PRUI Kaltim, Yudhi Perdana Putra, mengatakan bahwa pelaksanaan program masih belum berjalan maksimal karena sejumlah daerah baru kembali memulai kegiatan sosialisasi ke sekolah-sekolah.
“Untuk persentase pelaksanaannya mungkin masih sekitar 30 sampai 40 persen. Karena di beberapa kabupaten dan kota lain seperti Balikpapan, Kutai Timur (Kutim), dan Kutai Kartanegara (Kukar), program ini baru mulai berjalan kembali,” ujarnya pada Rabu (3/6/2026).
Menurut Yudhi, saat ini terdapat tujuh daerah yang telah memiliki kepengurusan cabang (Pengcab) dan mulai melakukan langkah awal pengembangan rugby seperti Samarinda, Kukar, Kutim, Balikpapan, Bontang, Berau, dan Paser.
Meski demikian, pelaksanaan program di sejumlah wilayah tersebut belum sepenuhnya optimal.
Salah satu kendala utama adalah keterbatasan waktu para pengurus daerah yang sebagian besar masih memiliki pekerjaan utama di luar organisasi olahraga.
“Di beberapa daerah memang belum berjalan penuh. Kendalanya karena pengurus yang bertugas melakukan sosialisasi dan kegiatan go to school masih disibukkan dengan pekerjaan mereka, sehingga perlu mengatur waktu untuk turun langsung ke sekolah-sekolah,” jelasnya.
Sementara itu, tiga daerah di Kaltim hingga kini masih belum memiliki pergerakan program yang signifikan, yakni Penajam Paser Utara (PPU), Kutai Barat (Kubar), dan Mahakam Ulu (Mahulu).
Dengan kondisi tersebut, PRUI Kaltim menilai pengembangan rugby di daerah tetap menunjukkan progres positif karena sebagian besar wilayah sudah mulai membentuk kepengurusan dan melakukan persiapan pelaksanaan program pembinaan usia dini.
Namun untuk tahun 2026 ini, kegiatan sosialisasi secara masif ke sekolah-sekolah masih menunggu arahan dan koordinasi lebih lanjut dari pengurus pusat. Hal itu berkaitan dengan mekanisme pelaporan program kepada tingkat nasional hingga internasional.
“Untuk tahun ini kami masih menunggu koordinasi dari pusat. Karena setiap pelaksanaan Rugby Goes to School harus dilaporkan ke pengurus pusat, kemudian diteruskan ke World Rugby,” kata Yudhi.
Dirinya menjelaskan, laporan tersebut menjadi salah satu syarat untuk mendapatkan dukungan perlengkapan olahraga berupa bola rugby yang nantinya akan dibagikan kepada sekolah-sekolah peserta program.
“Melalui laporan itu biasanya ada bantuan bola yang akan disalurkan ke sekolah-sekolah yang menjadi sasaran sosialisasi. Jadi kami juga masih menunggu pengiriman perlengkapan tersebut untuk mendukung kegiatan di lapangan,” tambahnya.
PRUI Kaltim berharap koordinasi dengan pengurus pusat dapat segera terealisasi sehingga program Rugby Goes to School dapat berjalan lebih luas dan merata di seluruh kabupaten dan kota.
Program ini dinilai penting sebagai upaya memperkenalkan olahraga rugby kepada pelajar sekaligus menjaring bibit-bibit atlet potensial yang dapat memperkuat prestasi Kaltim di masa mendatang.
Editor: Erwin