Hal itu disampaikannya dalam forum diskusi menjelang pelaksanaan Musprov KONI Kaltim pada Selasa (2/6/2026).
Menurut Rusman, forum yang digelar menjelang Musprov harus menjadi ruang klarifikasi dan penyamaan persepsi seluruh insan olahraga sehingga tidak ada lagi persoalan yang berpotensi menimbulkan perdebatan saat musyawarah berlangsung.
“Jika ada pandangan yang keliru, mari kita luruskan bersama. Jangan sampai saat Musprov justru muncul perdebatan yang tidak produktif,” ujarnya.
Rusman menekankan, Musprov merupakan forum tertinggi organisasi olahraga yang harus dijalankan dengan semangat pengabdian dan kepentingan kemajuan olahraga daerah.
Bukan sebagai sarana untuk menguasai organisasi melalui mekanisme yang berpotensi mengabaikan nilai-nilai demokrasi.
Ia mengingatkan, jika praktik-praktik yang tidak demokratis terus dipertahankan, maka KONI berisiko terjebak dalam sistem kepemimpinan yang tidak sehat.
“Kita sering menyerukan perubahan untuk Kaltim. Namun perubahan itu tidak akan berarti jika kita tidak memperbaiki sistem dan mekanisme organisasi dari hulu hingga hilir, termasuk dalam proses rekrutmen dan kepemimpinan organisasi olahraga,” tegasnya.
Dalam paparannya, Rusman mengingatkan, KONI merupakan induk organisasi olahraga prestasi yang harus dijalankan berdasarkan prinsip-prinsip profesionalisme.
Menurutnya, terdapat sejumlah aspek fundamental yang harus menjadi landasan organisasi olahraga, yakni kepatuhan terhadap regulasi, independensi dalam pengambilan keputusan, sportivitas, akuntabilitas, serta transparansi.
“Komponen-komponen ini harus menjadi pondasi utama dalam membangun organisasi olahraga yang kredibel dan berorientasi pada prestasi. Jika tidak terpenuhi, maka sulit melahirkan olahraga yang profesional dan berprestasi,” katanya.
Rusman menjelaskan, KONI memiliki mandat utama untuk mengoordinasikan pembinaan olahraga prestasi di daerah. Selain itu, KONI bertugas mendistribusikan dukungan secara proporsional kepada cabang olahraga berdasarkan kebutuhan, potensi, dan capaian prestasi yang dimiliki.
KONI juga dinilai berperan sebagai mitra strategis pemerintah dalam menyelenggarakan pembinaan olahraga secara berkelanjutan guna meningkatkan prestasi atlet dan daya saing daerah di tingkat nasional maupun internasional.
“KONI memang bukan bagian dari pemerintah, tetapi melaksanakan tugas-tugas strategis dalam pembinaan olahraga prestasi. Karena itu kolaborasi dengan pemerintah menjadi sesuatu yang tidak bisa dipisahkan,” ujarnya.
Mantan Legislator Karang Paci itu menilai. Tanggung jawab pembinaan olahraga prestasi saat ini semakin besar berada di tangan cabang olahraga (cabor), terutama dalam membangun sistem pembinaan atlet usia dini.
Ia mencontohkan pengalaman di cabor bowling yang kini fokus melakukan regenerasi atlet untuk menghadapi Pekan Olahraga Nasional (PON) mendatang.
“Kami melakukan peremajaan atlet secara menyeluruh. Sistem kompetisi juga terus dibangun. Bahkan orang tua atlet kami libatkan secara aktif agar pembinaan tidak hanya bergantung pada anggaran yang tersedia,” ungkapnya.
Ditambahkannya, keterlibatan keluarga menjadi salah satu faktor penting dalam menciptakan pembinaan atlet yang berkelanjutan.
Editor: Erwin