Ajang tersebut menjadi tonggak penting dalam perkembangan kompetisi basket antarkampus di Kalimantan Timur (Kaltim). Selain itu, Campus League juga mencatat sejarah baru karena untuk pertama kalinya diselenggarakan di luar Pulau Jawa.
Sebanyak empat perguruan tinggi terbaik di Kaltim turut ambil bagian pada kategori putra, yakni Politeknik Negeri Samarinda, Universitas Mulawarman, Politeknik Negeri Balikpapan, dan Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur (UMKT).
Head of Competition and Talent Development Campus League, Dave Leopold, menjelaskan musim perdana Campus League 2026 dibagi ke dalam lima regional, yaitu Surabaya, Yogyakarta, Samarinda, Bandung dan Jakarta.
“Regional Surabaya dan Yogyakarta sudah berjalan. Sekarang Samarinda sedang berlangsung. Ini menjadi kota pertama di luar Jawa yang menggelar Campus League,” ujarnya.
Dave memaparkan, setiap regional memiliki format berbeda menyesuaikan jumlah peserta. Di Surabaya, kompetisi diikuti 16 tim putra dan 8 tim putri dengan sistem setengah kompetisi. Sementara di Yogyakarta terdapat 13 tim putra dan 8 tim putri.
“Walaupun jumlah peserta di Jogja lebih sedikit, kami justru menambah fase delapan besar supaya jam terbang atlet semakin banyak,” katanya.
Berbeda dengan regional lain, Samarinda hanya diikuti empat tim putra tanpa kategori putri. Meski demikian, panitia tetap menerapkan sistem kompetitif penuh menggunakan klasemen akhir tanpa semifinal maupun final.
“Di Samarinda semua pertandingan menjadi penentuan. Hari pertama penentuan, hari kedua penentuan, dan hari ketiga juga penentuan. Kalau ada tim saling mengalahkan, persaingan akan sangat seru sampai hari terakhir,” jelas Dave.
Ia mengakui jumlah peserta yang masih minim menjadi tantangan tersendiri karena Campus League baru pertama kali hadir di luar Jawa. Menurutnya, banyak kampus di Kaltim masih mengenal dan mempelajari konsep kompetisi tersebut.
“Ini masih tahap pendekatan. Banyak yang belum tahu Campus League itu seperti apa. Pengalaman di kota lain juga begitu. Setelah tidak ikut, mereka justru menyesal dan langsung booking untuk musim berikutnya,” ungkapnya.
Pendaftaran telah dibuka sejak Januari hingga Maret 2026 agar setiap kampus memiliki waktu mempersiapkan tim, administrasi, hingga perlengkapan pertandingan.
Meski baru menghadirkan empat peserta, Dave optimistis antusiasme basket mahasiswa di Kaltim akan terus berkembang. Ia menargetkan pada musim 2027 jumlah peserta di Samarinda dapat meningkat menjadi 8 hingga 12 tim.
“Kami melihat potensi pebasket di Kaltim cukup berkembang dan kompetitif. Pembinaan di level SMA sudah berjalan baik. Tantangannya biasanya setelah lulus SMA, mereka melanjutkan kuliah ke mana,” katanya.
Selain itu, ia menilai persoalan infrastruktur olahraga masih menjadi pekerjaan rumah besar, tidak hanya untuk basket tetapi juga cabang olahraga lainnya.
“Isu terbesar memang infrastruktur. Ada venue yang belum ideal, bahkan ada GOR yang bocor. Tapi bagaimanapun kompetisi harus tetap berjalan dan selesai sesuai jadwal,” tegasnya.
Campus League juga disebut menjadi wadah penting pencarian bakat atlet muda potensial menuju level nasional.
Dave mengungkapkan, sejumlah pemain yang tampil di kompetisi sebelumnya bahkan mendapat panggilan seleksi tim nasional.
“Kami rutin memberikan laporan statistik pemain ke federasi. Dari sana akan dilakukan talent scouting dan seleksi pemain potensial dari berbagai daerah,” jelasnya.
Sementara itu, Pelatih basket Politeknik Negeri Samarinda, Sandy Indrachaya mengakui timnya menghadapi sejumlah kendala teknis dalam persiapan menuju Campus League 2026.
“Persiapan kami sebenarnya sudah ada programnya, tetapi sempat terkendala fasilitas dan lapangan latihan di kampus. Namun anak-anak tetap berusaha maksimal,” ujarnya.
Meski demikian, Sandy menilai performa anak asuhnya mulai menunjukkan perkembangan positif. Setelah menelan kekalahan pada pertandingan sebelumnya, Polnes berhasil bangkit dan meraih kemenangan penting.
“Anak-anak sudah bermain sesuai harapan. Tinggal pertandingan besok yang menjadi penentuan. Strategi sudah disiapkan, sekarang fokus kami menjaga kebugaran pemain karena jadwal pertandingan sangat padat,” katanya.
Hal senada disampaikan pemain Polnes, Risky. Dia menyebut kendala teknis sempat memengaruhi performa tim, namun para pemain mampu bangkit dan menyelesaikan pertandingan dengan baik.
“Campus League ini seperti pesta bagi mahasiswa pecinta basket. Selama ini mimpi bermain besar identik dengan level SMA seperti DBL, padahal mahasiswa juga masih ingin punya panggung kompetisi,” ujarnya.
Risky berharap Campus League dapat terus berlanjut dan berkembang di Kaltim agar semakin banyak mahasiswa memiliki ruang kompetitif untuk menyalurkan bakat basket mereka.
Editor: Erwin