Seleksi ini menjadi tahap awal penentuan atlet yang akan memperkuat tim nasional Indonesia pada ajang olahraga terbesar di Asia tersebut.
Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) mengirimkan dua atlet putra pada seleknas kali ini, yakni Risky Zammi dan Saiful Fadillah.
Keenam atlet yang mengikuti seleksi ditempatkan dalam satu grup atau sistem pool, di mana seluruh peserta harus saling berhadapan.
Dari hasil pertandingan tersebut, hanya tiga atlet dengan peringkat tertinggi yang berhak lolos ke pemusatan latihan nasional (Pelatnas) menuju Asian Games.
Dari dua wakil Kaltim, satu atlet berhasil menembus tiga besar. Risky Zammi tampil konsisten sepanjang seleksi dan mengakhiri persaingan di posisi kedua.
Sementara itu, Saiful Fadillah harus puas menempati peringkat keenam dan belum berhasil melangkah ke tahap berikutnya.
“Karena yang diambil hanya tiga atlet dengan peringkat teratas, Alhamdulillah Kaltim masih bisa meloloskan satu wakil, yaitu Zammi yang finis di posisi kedua. Peringkat pertama ditempati Reza Fahlevi dari Jawa Tengah, dan peringkat ketiga diraih Bagus dari DKI Jakarta,” ujar pelatih Kaltim, Noor Asnan, saat dihubungi pada Minggu (25/1/2026).
Asnan menjelaskan kegagalan Saiful Fadillah bukan disebabkan oleh lemahnya kemampuan teknik. Menurutnya, faktor utama terletak pada minimnya pengalaman bertanding di level tinggi.
Saiful yang merupakan atlet termuda di seleknas ini dinilai masih membutuhkan jam terbang, khususnya dalam menerapkan strategi dan membaca permainan lawan.
“Dari sisi teknik, Fadil sudah sangat baik. Namun dalam hal taktik dan strategi bermain, dia masih kalah pengalaman dibanding atlet-atlet senior yang lain,” jelas Asnan.
Berbeda dengan Zammi yang telah berusia 28 tahun dan memiliki pengalaman bertanding di sejumlah kejuaraan internasional. Faktor pengalaman tersebut dinilai menjadi keunggulan utama Zammi, terutama dalam kemampuan membaca arah permainan dan mengambil keputusan di lapangan.
Meski demikian, Asnan menilai kondisi fisik Zammi masih perlu ditingkatkan agar mampu bersaing secara optimal di level internasional.
“Zammi unggul dalam membaca permainan karena pengalamannya. Hanya saja, dari sisi fisik, menurut saya masih perlu sedikit peningkatan,” tambah Asnan yang memantau jalannya seleknas secara daring melalui Zoom.
Sebagai pelatih yang juga kerap dipercaya menangani tim nasional, Asnan menyampaikan optimismenya terhadap peluang Indonesia di Asian Games 2026.
Meski mengakui bahwa peta kekuatan soft tennis Asia saat ini masih didominasi oleh Jepang, Korea Selatan, dan China Taipei, ia yakin Indonesia memiliki potensi untuk bersaing di jalur perebutan medali.
“Saya tidak bisa menjanjikan lebih, tetapi dengan persiapan yang matang, kami optimistis Indonesia mampu bersaing di zona medali,” pungkasnya.
Editor: Erwin