Menurut Suwarno, target tersebut bukan hal yang mustahil, namun sangat bergantung pada komitmen pemerintah daerah terutama dalam hal dukungan anggaran dan sistem pembinaan atlet yang berkelanjutan.
“Keinginan untuk menjadi juara atau masuk tiga besar tentu sangat baik. Tapi ini tergantung Pak Gubernur dan Pak Wakil Gubernur. Semua kembali pada dukungan nyata, terutama soal anggaran,” kata Suwarno belum lama ini.
Ia menjelaskan, besaran anggaran menjadi faktor penentu apakah pembinaan atlet cukup dilakukan di dalam daerah atau perlu kerja sama dengan daerah lain maupun luar negeri.
Anggaran itu menentukan kata dia, apakah pembinaan cukup dilakukan di Kaltim sendiri, atau bisa menitipkan atlet ke daerah lain seperti Purwakarta, Bojonegoro, bahkan mengirim ke Korea Selatan atau China.
“Kalau anggarannya terbatas, pembinaan bisa stagnan dan hasilnya mungkin hanya bertahan di 10 besar,” jelasnya.
Namun, lanjut Suwarno, jika dukungan anggaran memadai dan dimanfaatkan secara tepat, maka peluang Kaltim untuk meningkatkan prestasi nasional akan semakin besar.
Meski demikian, ia menyarankan agar target awal dibuat lebih realistis, yakni menjadi juara di antara provinsi luar Pulau Jawa terlebih dahulu.
“Target realistisnya, jadilah juara di provinsi luar Jawa dulu. Jangan langsung membebani diri untuk mengalahkan Jawa Barat, DKI, atau Jawa Timur. Bandingkan dulu dengan Bali, Sumatera Utara, atau Sulawesi Selatan,” ujarnya.
Menurutnya, dengan capaian tersebut, kepercayaan diri atlet dan daerah akan tumbuh, sehingga target yang lebih besar bisa dikejar secara bertahap.
Suwarno juga menilai Kaltim memiliki modal nonteknis yang kuat, yakni reputasi atletnya yang mulai diperhitungkan lawan.
“Sekarang ini, kalau bertanding melawan atlet Kalimantan Timur, lawan sudah mikir dulu. Itu sudah menjadi modal yang sangat baik,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut, Suwarno turut mencontohkan keberhasilan Jawa Barat yang mampu mencetak hattrick juara umum PON. Menurutnya, keberhasilan tersebut lahir dari sinergi semua pihak.
“Di Jawa Barat, semua komponen menyatu. PPLP dibahas bersama, seleksi atlet benar-benar berdasarkan talenta, bukan karena kedekatan. Akademisi seperti UPI mendukung penuh, bahkan DPRD ikut menopang pembiayaan kompetisi,” ungkapnya.
Ia juga menyinggung model pembinaan DKI Jakarta yang meski minim sumber bibit atlet, mampu mengatasinya dengan kompetisi berjenjang antar sekolah serta pemanfaatan perguruan tinggi seperti Universitas Negeri Jakarta (UNJ) sebagai pusat pembinaan.
“Ini bisa menjadi acuan. Artinya, Kaltim ke depan perlu memperkuat pembinaan berbasis pendidikan dan akademisi. Kalau semua komponen bergerak bersama, hasilnya pasti akan terlihat,” pungkasnya.
Editor: Erwin