Namun, kondisi tersebut belum sepenuhnya berbanding lurus dengan prestasi Indonesia di level Asia Tenggara, khususnya pada ajang SEA Games, di mana persaingan masih menjadi tantangan besar.
Ketua Persatuan Olahraga Layar Seluruh Indonesia (Porlasi) Kaltim, Teddy Nanang Abay, mengakui bahwa Indonesia masih membutuhkan waktu untuk mampu bersaing secara konsisten dengan negara-negara kuat di kawasan Asia Tenggara.
Porlasi Kaltim sebenarnya telah memiliki peta jalan (road map) pembinaan atlet yang jelas, dimulai sejak usia dini. Namun, untuk menembus level persaingan Asia Tenggara, proses tersebut tidak bisa dilakukan secara instan.
Sementara untuk target PON, mereka membutuhkan sekitar enam tahun pembinaan atau kurang lebih 6.000 jam latihan sejak usia delapan tahun.
“Jika pembinaan berjalan sesuai rencana, di usia 14 tahun atlet sudah berpeluang meraih emas. Setelah itu, usia 15 tahun mulai diarahkan ke SEA Games. Itu road map kami. Tapi untuk SEA Games, jujur saja, kami masih perlu waktu,” kata Teddy saat dihubungi beberapa waktu lalu.
Ia menjelaskan, negara-negara pesaing di Asia Tenggara seperti Singapura, Malaysia, dan Thailand memiliki keunggulan dalam hal intensitas kompetisi dan pengalaman bertanding.
Atlet-atlet dari negara tersebut jauh lebih sering mengikuti berbagai kejuaraan, baik di dalam maupun luar negeri. Sementara itu, atlet Indonesia, khususnya dari Kaltim, masih tergolong minim jam terbang.
Kondisi tersebut berdampak langsung pada pengalaman dan mental bertanding di level internasional. “Anak-anak usia 13 sampai 14 tahun harus lebih sering ikut try out atau single event. Pengetahuan dan pengalaman mereka masih terbatas. Mereka perlu belajar langsung dengan sering turun ke lapangan dan menghadapi berbagai situasi lomba,” jelas Teddy.
Sebagai contoh, Teddy menyinggung penampilan Muhammad Adhit, atlet asal Kaltim yang mewakili Indonesia di SEA Games pada nomor Optimist putra. Dalam kejuaraan tersebut, Adhit lebih banyak berada di posisi lima hingga tujuh.
Berdasarkan laporan Koran Jakarta, pencapaian terbaik atlet berusia 15 tahun itu hanya terjadi pada balapan kelima hari ketiga, ketika ia berhasil finis di peringkat ketiga. Pada balapan lainnya, ia kembali berkutat di posisi lima dan tujuh, dengan skor akhir 46,0.
Medali emas pada nomor tersebut diraih atlet Singapura, disusul Thailand dan Malaysia, meskipun Adhit sebelumnya merupakan peraih emas PON Aceh.
“Memang berat untuk menembus tiga besar, karena Singapura, Malaysia, dan Thailand memiliki anggaran berpuluh-puluh kali lipat dari kita, serta sistem pembinaan yang berjalan sangat baik. Mereka saat ini masih beberapa langkah di depan kita,” akunya.
Meski demikian, Teddy menegaskan Porlasi Kaltim dan Indonesia tidak akan menyerah. Ia optimistis, dengan pembinaan berkelanjutan dan peningkatan jam terbang atlet, jarak tersebut perlahan dapat dikejar.
“Kami tidak ingin putus asa. Pelan tapi pasti, kami yakin suatu saat bisa menyamai bahkan melampaui mereka,” pungkasnya.
Editor: Erwin