Dengan raihan empat medali emas, tiga perak, dan tujuh perunggu, Kaltim tidak hanya mempertegas dominasinya sebagai kekuatan beladiri di luar Pulau Jawa, tetapi juga membuka babak baru dalam peta pembinaan olahraga daerah.
Ketua KONI Kaltim, Rusdiansyah Aras, menyebut capaian Sambo sebagai bukti bahwa diversifikasi kekuatan beladiri kini mulai membuahkan hasil nyata.
“Selama ini kita dikenal sebagai lumbung emas dari Gulat, tapi Sambo menunjukkan bahwa Kaltim punya potensi besar di disiplin baru. Ini kejutan yang strategis dan akan kita kelola serius untuk jangka panjang,” ujarnya, Selasa (21/10/2025).
Prestasi Sambo di Kudus memiliki efek berlapis bagi Kaltim. Pertama, mengukuhkan posisi Kaltim sebagai kontingen terkuat di luar Pulau Jawa sekaligus mempertahankan tempat di empat besar nasional.
Keberhasilan ini menjadi sinyal kuat bahwa investasi daerah di sektor beladiri tidak lagi bergantung pada satu cabang saja.
Kedua, kemenangan para atlet memberi dampak psikologis positif bagi seluruh tim. Salah satu contoh inspiratif datang dari atlet Nur Hadijah, peraih emas yang sukses menembus podium tertinggi lewat latihan mandiri dan disiplin tinggi.
“Kisah seperti Nur Hadijah ini luar biasa. Dia menunjukkan bahwa tekad dan sistem latihan yang tepat bisa menembus batas,” kata Rusdiansyah.
Sambo, yang memadukan teknik gulat dan judo, dinilai sangat cocok dikembangkan di Kaltim. Apalagi, basis atlet Gulat di provinsi ini tergolong kuat dan berpengalaman.
Sinergi keduanya diprediksi akan mempercepat transisi dan memperluas potensi medali, terutama di nomor Combat Sambo, yang menawarkan lebih banyak kategori tanding.
“Dengan fondasi Gulat yang kuat, adaptasi ke Sambo tidak sulit. Kita ingin menjadikan Sambo sebagai ‘adik kandung’ Gulat yang siap menyumbang emas secara konsisten,” tambah Rusdiansyah.
Untuk menjadikan Sambo sebagai lumbung medali kedua setelah Gulat, KONI Kaltim bersama Persambi (Persatuan Sambo Indonesia) Kaltim telah menyiapkan arah pengembangan jangka panjang yang terukur, dengan fokus pada langkah strategis dan solusi berkelanjutan.
Infrastruktur dan fasilitas. Pengadaan matras dan perlengkapan standar Sambo menjadi prioritas, sekaligus membangun fasilitas latihan permanen agar tidak lagi bergantung pada pinjaman.
Regenerasi atlet. Upaya ini mencakup pembibitan dini dari klub Gulat, Judo, dan Jujitsu untuk mengisi seluruh kelas tanding. Selain itu, dibentuk Pelatda terpusat jangka panjang berbasis sport science, dengan integrasi latihan yang mencakup nutrisi, psikologi, dan pemulihan.
Sumber daya manusia (pelatih). Kualitas kepelatihan ditingkatkan melalui sertifikasi dan magang nasional maupun internasional, sehingga pelatih lebih adaptif dan mengikuti metode modern.
Eksplorasi Combat Sambo. Program ini menargetkan rekrutmen atlet berbasis striking dan grappling, untuk memaksimalkan peluang medali di nomor Combat Sambo.
Keberhasilan Sambo Kaltim di Kudus bukan sekadar hasil spontan, melainkan tanda awal transformasi olahraga beladiri di Bumi Etam. Setelah Gulat menjadi tulang punggung prestasi selama bertahun-tahun, kini Sambo siap menjadi “sumber emas baru” pada PON 2028 di NTB/NTT.
Dengan komitmen pembinaan berkelanjutan, peningkatan fasilitas, dan pendekatan ilmiah dalam latihan, Kaltim memiliki peluang besar mempertahankan reputasinya sebagai provinsi beladiri terbaik di luar Jawa, bahkan menembus papan atas nasional secara permanen.
“Sambo adalah masa depan. Dari kejutan manis hari ini, kita sedang menyiapkan tradisi emas untuk masa depan,” tutupnya.
Editor: Erwin