Ketua KONI Kaltim, Rusdiansyah Aras, menyebutkan bahwa 156 atlet akan diturunkan di 10 cabang olahraga bela diri, menjadi ujung tombak dalam perburuan prestasi di PON edisi khusus ini.
Adapun cabang yang diikuti meliputi Karate, Tarung Derajat, Ju-Jitsu, Pencak Silat, Taekwondo, Gulat, Judo, Sambo, Wushu, dan Shorinji Kempo.
Dominasi Kaltim di cabang bela diri bukan tanpa alasan. Pada PON Aceh–Sumut 2024, atlet-atlet bela diri menyumbang 65 dari total 154 medali yang diraih provinsi ini. Bahkan, 65 persen dari 30 medali emas Kaltim kala itu berasal dari cabor bela diri.
Capaian tersebut menjadi bekal mental juara yang kuat untuk menghadapi PON 2025, sekaligus pemacu semangat untuk mempertahankan tradisi emas di panggung nasional.
“Ini bukan sekadar ambisi. Data dari PON sebelumnya menunjukkan bahwa cabang bela diri bukan hanya andalan, tapi juga kekuatan utama Kaltim di pentas nasional,” ujar Rusdiansyah pada Kamis (9/10/2025).
KONI Kaltim telah menetapkan dua target besar untuk PON Bela Diri 2025. Pertama, menjadi kontingen terbaik di luar Pulau Jawa. Kedua, yang lebih ambisius, adalah menembus posisi tiga besar nasional.
Meskipun harus menghadapi persaingan sengit dari provinsi-provinsi kuat seperti Jawa Barat, DKI Jakarta, dan Jawa Timur, Kaltim tetap percaya diri dengan kekuatan dan kesiapan timnya.
Meski peluang besar terbuka, sejumlah tantangan tetap menjadi perhatian serius. Persaingan ketat dari Pulau Jawa, kekuatan infrastruktur dan pembinaan atlet di provinsi-provinsi Jawa menjadi rival terberat.
Adaptasi lingkungan, perbedaan cuaca, makanan, dan suasana kompetisi di Kudus dapat memengaruhi performa. Manajemen performa puncak, menjaga kondisi prima atlet selama 16 hari kompetisi menjadi tantangan tersendiri. Subjektivitas wasit/juri, potensi ketidaknetralan dalam penilaian masih menjadi risiko yang perlu diantisipasi.
Agar target besar tersebut tercapai, baik pelatih maupun atlet diminta menjalankan strategi yang terukur dan disiplin tinggi. Bagi pelatih, yakni fokus pada nomor-nomor potensial emas, manajemen mental dan rotasi istirahat atlet, evaluasi cepat setiap hari usai pertandingan, jaga disiplin tim secara menyeluruh.
Sementara bagi atlet, menjaga disiplin tinggi terkait latihan, nutrisi, dan istirahat, fokus bertanding dengan mental juara dan sportivitas tinggi, menjalin komunikasi yang solid dengan pelatih dan rekan tim.
Tiga pilar pendukung kata Rusdi yakni Binpres, Litbang, dan Sport Science. KONI Kaltim mengerahkan tiga bidang utama untuk mendukung penuh performa kontingen.
“Bidang Pembinaan dan Prestasi yang bertugas mengawal logistik, jadwal, dan strategi pertandingan. Juga memastikan kondisi ideal bagi cabor-cabor lumbung medali,” sebutnya.
Bidang Penelitian dan Pengembangan, menyediakan data analitik dan statistik lawan, serta evaluasi performa atlet untuk menyusun strategi harian.
Bidang Sport Science, menjamin pemulihan optimal melalui ahli fisioterapi, gizi, dan psikologi olahraga. Juga melakukan monitoring kesehatan atlet secara real-time.
Dengan sinergi yang kuat antara atlet, pelatih, serta dukungan penuh dari Binpres, Litbang, dan Sport Science, Kaltim siap menunjukkan tajinya sebagai kekuatan bela diri nasional.
“Kita tidak hanya ingin tampil. Kita ingin menang, dan membuktikan bahwa Kaltim bisa bersaing di level tertinggi,” tutupnya.
Editor: Erwin