Ia menyebut, pemetaan ini sangat krusial sebagai fondasi awal persiapan menuju PON 2028 di NTB/NTT. Ketiga bidang tersebut, menurutnya, harus bekerja secara terintegrasi dan kolaboratif untuk menghasilkan data yang komprehensif, akurat, obyektif, dan aplikatif.
“Peran Binpres berfungsi sebagai pemegang kebijakan teknis dan pelaksana utama dalam merumuskan strategi pembinaan dan evaluasi hasil pertandingan,” kata Rusdi, Selasa (7/10/2025).
Rusdi menjelaskan, pemetaan atlet pada PON Bela Diri 2025 akan menjadi dasar kontribusi bagi PON NTB/NTT 2028.
“Mengamati dan merekam langsung hasil pertandingan (medali, peringkat), kualitas lawan, dan pola penampilan atlet selama kompetisi (misalnya, strategi yang digunakan, daya tahan di ronde akhir),” sebutnya.
Dari hasil tersebut, lanjutnya, dapat ditentukan skala prioritas atlet dan cabang olahraga (cabor) bela diri yang memiliki potensi lolos dan meraih medali di PON 2028, berdasarkan data prestasi nyata selama di Kudus.
“Mengidentifikasi atlet underdog atau atlet muda potensial yang menunjukkan perkembangan signifikan atau memiliki keunggulan teknik/fisik yang belum terkelola optimal,” tambah Rusdi.
Setelah itu, atlet dapat dikelompokkan ke dalam program pelatda/pelatnas jangka panjang, sekaligus disusun kurikulum latihan yang selaras dengan roadmap prestasi 2028.
Ia menambahkan koordinasi teknis menjadi jembatan antara pelatih cabor, Litbang, dan Sport Science untuk memastikan seluruh data yang dikumpulkan benar-benar relevan dan dibutuhkan di lapangan.
“Memastikan transisi atlet dari PON 2025 ke program latihan 2028 berjalan mulus, termasuk alokasi pelatih dan sarana/prasarana,” tegasnya.
Rusdi juga menekankan pentingnya peran sebagai pusat data dan kajian strategis, yang bertugas mengumpulkan, menganalisis, dan merumuskan rekomendasi kebijakan berbasis data objektif.
“Fungsi utamanya, peran dalam pemetaan atlet di PON Bela Diri 2025, yakni kontribusi ke PON NTB/NTT 2028. Pengumpulan data kuantitatif dalam merancang instrumen pengumpulan data kinerja atlet (misalnya, formulir penilaian teknik, database statistik tanding) dan profil atlet dari seluruh provinsi,” paparnya.
“Membangun basis data atlet potensial nasional (Talent Pool) yang terstruktur, mencakup riwayat kompetisi, perkembangan fisik, dan data psikologis,” tambahnya.
Tak hanya itu, analisis taktik dan teknik pun menjadi bagian penting dalam mengkaji gaya bertanding, keunggulan, kelemahan atlet, serta pola sukses dan strategi efektif dalam cabang bela diri.
“Menyediakan laporan analisis yang digunakan Binpres dan pelatih untuk menyusun strategi tanding dan modifikasi teknik menjelang PON 2028,” imbuhnya.
“Rekomendasi kebijakan, yakni merumuskan rekomendasi strategis mengenai cabor bela diri mana yang harus diprioritaskan dan standar minimal prestasi yang harus dicapai atlet,” sebutnya lagi.
Ia juga menekankan pentingnya parameter keberhasilan (Key Performance Indicators/KPIs) jangka menengah untuk program persiapan PON 2028, termasuk target fisik dan teknis atlet.
Sementara itu, Sport Science memiliki peran memberikan dukungan ilmiah dan obyektif, melalui berbagai pengukuran fisiologis, biomekanik, dan psikologis, sehingga pemetaan atlet tidak hanya berdasarkan hasil kompetisi, tetapi juga potensi ilmiah.
“Terakhir, Sport Science bertugas memberikan dukungan ilmiah dan data obyektif melalui pengukuran fisiologis, biomekanik, dan psikologis, sehingga pemetaan tidak hanya didasarkan pada hasil, tetapi juga pada potensi ilmiah,” tegasnya.
Kontribusi ini meliputi pengukuran kapasitas fisik atlet seperti VO2 Max, anaerobic power, dan komposisi tubuh, baik sebelum, selama, maupun setelah pertandingan, termasuk pemantauan tingkat kelelahan (recovery).
“Mengidentifikasi profil fisik ideal per cabor/kelas tanding (misalnya, rasio power vs endurance) sebagai basis seleksi dan pelatihan 2028,” bebernya.
Sport Science juga akan menganalisis efisiensi gerakan dan risiko cedera saat bertanding, menggunakan alat ukur canggih, termasuk kekuatan pukulan, akurasi tendangan, dan stabilitas kuda-kuda.
Selain itu, aspek psikologis dan nutrisi juga menjadi perhatian dalam mendukung performa atlet secara menyeluruh.
Rusdi menyebutkan Sport Science turut menyusun program pencegahan cedera dan modifikasi teknik demi mengoptimalkan performa serta meminimalisir risiko cedera jangka panjang.
“Menyediakan intervensi psikologis (fokus, motivasi) dan protokol nutrisi yang disesuaikan untuk program latihan tinggi intensitas menuju PON 2028,” jelasnya.
Dari seluruh rangkaian proses tersebut, Rusdi menyebut PON Bela Diri 2025 di Kudus sebagai laboratorium terbuka untuk pemetaan atlet.
Menurutnya, keberhasilan persiapan menuju PON 2028 sangat bergantung pada sinergi data dari tiga bidang utama, Binpres menentukan siapa yang unggul berdasarkan hasil pertandingan, Litbang menjawab mengapa unggul berdasarkan analisis taktik dan data komparatif dan Sport Science menjelaskan bagaimana mengembangkan keunggulan berdasarkan data ilmiah dan objektif.
“Integrasi data ini akan menghasilkan Peta Jalan (Roadmap) Atlet yang holistik, memadukan prestasi kompetisi dengan potensi ilmiah, memastikan bahwa atlet yang dipersiapkan untuk PON NTB/NTT 2028 adalah pilihan terbaik berdasarkan data terpadu (data-driven selection),” pungkasnya.
Editor: Erwin