Penetapan tersebut berlangsung dalam Musyawarah Provinsi (Musprov) PDBI Kaltim di Gedung Guru, Prevab, Kota Samarinda Minggu (21/9/2025).
Usai terpilih, Albert menyampaikan bahwa prioritas utama ke depan adalah menyusun struktur kepengurusan yang baru.
Ia optimistis formasi kepengurusan kali ini dapat menjalankan roda organisasi secara maksimal dan berkelanjutan.
“Kegiatan selanjutnya setelah musyawarah akan terbentuk kepengurusan baru, dan kita harapkan mereka bisa menjalankan roda organisasi dengan sebaik-baiknya,” ujarnya.
Di bawah kepemimpinannya PDBI sudah terbentuk di delapan kabupaten/kota. Hanya tersisa Kabupaten Kutai Barat (Kubar) dan Mahakam Ulu (Mahulu) yang belum memiliki kepengurusan resmi.
“Di Kubar sebenarnya sudah ada persiapan. Potensinya besar, apalagi dukungan pemerintah kabupaten cukup kuat. Jadi tinggal menunggu proses formal terbentuknya pengurus,” katanya.
Ia menambahkan, pembinaan cabang olahraga drum band tetap berjalan baik di sejumlah daerah. Bontang, Kutai Timur, Paser, hingga Berau mendapat dukungan dari berbagai pihak, termasuk perusahaan yang menjadi bapak angkat cabor.
“Misalnya di Bontang ada dukungan dari PKT, di Paser dari Kideco, sementara di Berau juga ada perusahaan yang ikut berkontribusi. Walaupun tidak besar, tapi cukup menopang pembinaan atlet dan administrasi organisasi,” jelasnya.
Setelah sempat vakum karena pandemi Covid-19, PDBI Kaltim berencana menghidupkan kembali agenda kejuaraan terbuka.
“Biasanya setiap tahun kami menggelar open tournament, tapi terkendala teknis saat Covid. Tahun ini kami coba bangkit kembali. Sebelum itu, kami siapkan atlet untuk Babak Kualifikasi Porprov,” tutur Albert.
Menurutnya, drum band bukan sekadar olahraga, tapi juga memiliki nilai seni dan jiwa patriotik. “Kalau keduanya digabungkan, akan menghasilkan sesuatu yang luar biasa,” tambahnya.
Albert juga menekankan pentingnya pembinaan sejak dini melalui sekolah-sekolah. Unit drum band di tingkat SD, TK, hingga SMP dinilai bisa menjadi fondasi lahirnya atlet berprestasi, tentu dengan dukungan dinas pendidikan dan pemanfaatan dana BOS.
“Kalau SMA kan kewenangannya di provinsi, tapi untuk jenjang dasar dan menengah bisa lewat pemerintah kabupaten/kota. Intinya tergantung pendekatan daerah masing-masing. Kalau serius, pembinaan bisa jalan,” tegasnya.
Meski optimistis dengan perkembangan drum band di Kaltim, Albert menyebut ada tantangan di tingkat nasional. Pasalnya, pada PON mendatang di Nusa Tenggara, cabang olahraga drum band tidak lagi dipertandingkan karena keputusan berada di tangan tuan rumah.
“Untuk sementara kita fokus pada Porprov tahun depan. Itu yang harus kita persiapkan matang, baik atlet maupun kegiatan organisasinya,” pungkasnya.
Editor: Erwin