Terkait ambisi berada diurutan 3 Besar pada PON XXII/2028 yang berlangsung di Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Nusa Tenggara Timur (NTT), Lembaga Kajian Olahraga Prestasi (LeKOP) Kaltim pun memberikan tanggapan.
“Semangat gubernur agar kontingen Kaltim berada di 3 Besar PON 2028 sangat luar biasa, itu harus didukung dan semua yang terlibat harus memiliki visi yang sama demi memastikan agar target itu terwujud, bukan sekadar angan-angan,” kata pembina LeKOP Kaltim Achmad Husry kepada Korankaltim.com Rabu (10/9/2025) hari ini.
Anggaran jadi dukungan terbesar yang paling dibutuhkan dan harus digelontorkan kalau ingin target terwujud, selain dari pemerintah juga bisa menggandeng sejumlah stakeholder. “Dan yang paling utama adalah pembinaan atlet yang konsisten,” tegas Husry.
LeKOP Kaltim melihat saat ini situasi olahraga di Benua Etam tidak menguntungkan karena usai PON XXI/2024 Aceh-Sumut lalu, KONI Kaltim sebagai induk organisasi cabang olahraga menyebut saat ini Kaltim dalam situasi darurat atlet. Dari daftar penyumbang medali emas hanya tersisa 20 persen kekuatan tersisa untuk berjuang di PON XXII/2028.
Korelasi antara masalah dan target tersebut membuat LeKOP Kaltim berkesimpulan, tugas terdekat yang harus disiapkan adalah sumber daya manusia (SDM), dalam hal ini atlet, dari sisi kuantitas dan kualitas dengan catatan, mutasi atlet bukan sebuah solusi jangka pendek.
“Atlet mutasi bisa mengangkat prestasi, tapi hanya diawal, setelah dapat medali mereka pulang ke daerah asal. Kalau mutasi diberlakukan, Kaltim akan rugi dua kali, tidak ada pembinaan yang mandek dan habis anggaran untuk mutasi atlet tersebut,” tegasnya.
Karena itu gubernur harus didukung penuh oleh seluruh masyarakat olahraga yang satu diantaranya dengan memaksimalkan keberadaan sentra pembinaan atlet.
Kehadiran Desain Besar Olahraga Nasional (DBON) Kaltim sempat membawa harapan dan mendapat apresiasi dari LeKOP Kaltim karena dengan kolaborasi bersama KONI Kaltim bisa fokus membina atlet usia dini dan pelajar yang bisa diandalkan untuk bersaing di kancah nasional dan internasional.
“Ada pula SKOI (Sekolah Khusus Olahragawan Internasional) Kaltim. Tetapi ternyata DBON Kaltim lembaganya direstrukturisasi jadi SPOBDa (Sentra Pembinaan Olahraga Berbakat Daerah) yang dimonitor penuh oleh Dispora Kaltim,” papar Husry.
Gerakan itu kemudian menjadi pertanyaan, apakah ASN Dispora Kaltim punya waktu dan energi untuk mengurusi lembaga tersebut? Sebab, sepemahamannya, ASN sudah habis waktunya untuk mengurusi birokrasi dan administrasi. Jangan sampai kemudian pengambilalihan ini berdampak kepada proses pembinaan atlet.
Terlepas dari dinamika tersebut, Husry belum mendapat gambaran langkah apa yang disiapkan Pemprov Kaltim untuk mewujudkan harapan Gubernur Harum agar Kaltim finis di tiga besar. Sampai tiba masanya program tersebut dipaparkan, dia mendoakan agar seluruh masyarakat olahraga di Kaltim bisa menyatukan visi untuk mendukung keinginan Gubernur Harum.
“Doakan saja cita-cita Kaltim menembus 3 Besar bisa terwujud. Memang tidak mudah, tetapi tidak ada yang mustahil,” ucapnya.
Terpisah, tokoh olahraga Kaltim Zairin Zain juga berharap Kaltim bisa de javu prestasi seperti tahun 2008. “Yang terpenting jangan mengulang kesalahan yang sama. Saat itu Kaltim banyak memutasi atlet demi mewujudkan tiga besar, kemudian ditinggal setelahnya, hingga berakibat turunnya prestasi Kaltim dari PON ke PON berikutnya,” papar Zairin.
Zairin juga sepakat kalau pembinaan atlet usia dini sebagai kunci. “KONI Kaltim harus bisa meluangkan waktu untuk mengevaluasi cabor-cabor yang membina atlet usia dini,” singkat Zairin.
Editor: Erwin