Para atlet akan bermain di empat nomor tanding, compound beregu putri dan perorangan putri. Sementara putra hanya bermain di recurve beregu dan perorangan.
Menurut Pelatih Panahan Kaltim, Harmaji, empat nomor itu dipilih untuk mendapatkan peluang medali emas sebanyak mungkin, khususnya di nomor perorangan.
“Sengaja diturunkan yang perorangan, kita punya enam atlet, dan keseluruhannya punya peluang untuk mendapatkan medali emas,” kata Harmaji, Kamis (28/8/2025).
Tiga peraih medali emas di PON Aceh dan Sumut lalu diturunkan, Latifah QR, Adzraa Aathirah dan Rohani Sephia diharap dapat kembali membanggakan nama Benua Etam di kejuaraan multievent tersebut.
Harmaji mengaku latihan gabungan dimulai sejak Rabu (27/8) lalu dan akan kembali dilaksanakan pada Jumat (29/8) ini.
Namun, nantinya pada pekan depan, mereka akan dikembalikan ke Pengcab masing-masing, untuk kemudian melakukan latihan.
“Ini dua kali untuk pelaksanaan latihan gabungan, nanti mulai pekan depan baru mereka melaksanakan latihan di Pengcab masing-masing,” sebutnya.
Beruntungnya, meski PON Aceh dan Sumut telah usai, panahan terus melakukan pembinaan pada atlet-atletnya, khususnya pada peraih medali.
Mereka tetap mendapatkan program dari Pengprov, Harmaji juga menyebutkan, Pengcab selalu aktif memberikan pembinaan.
“Dari pengprov ada program yang kemudian di jalankan Pengcab-pengcab. Makanya performa mereka tetap bagus, karena pasca PON tidak kita lepas begitu saja, tetap ada pembinaan dan latihan,” tegasnya.
Beberapa hari jelang keberangkatan, para atlet baru dikumpulkan kembali untuk menjalani latihan bersama di Stadion Sempaja.
Berbeda dengan PON atau multievent atau single event di Indonesia, Harmaji mengakui cukup kesulitan untuk melihat kekuatan lawan pada kejuaraan kali ini.
Meski tak menyebutkan secara pasti, beberapa negara nampaknya bakal hadir. Tantangan terbesar dari cabor panahan ini juga masih seputar angin. Namun, menurutnya di negara berbeda pasti ada perbedaan dengan di Indonesia.
“Iya kita tidak tahu seperti apa di sana, itu kita masih meraba-raba sebetulnya. Kalau di PON atau Kejurnas kita sudah bisa tahu, daerah mana yang berat. Tapi ini luar negeri, dan belum ada gambaran,” pungkasnya.
Editor: Erwin