“Nama tersebut melambangkan harapan, ketahanan dan komitmen bersama Indonesia dan China dalam melindungi spesies yang terancam punah, kata Taman Safari Indonesia dalam pernyataan Senin (8/12/2025) hari ini.
“Kelahiran ini merupakan hasil dari program kerja sama internasional jangka panjang yang telah berlangsung selama satu dekade, sejak kedatangan panda raksasa Hu Chun dan Cai Tao ke Indonesia pada tahun 2017 sebagai bagian dari kemitraan konservasi selama 10 tahun dengan China,” tulis manajemen Taman Safari lagi.
Rio dalam kondisi stabil dan berada di bawah pemantauan 24 jam oleh tim kebun binatang, menunjukkan tanda-tanda awal yang sehat seperti suara yang kuat, menyusui yang efektif, dan kenaikan berat badan yang stabil.
Dalam satu hingga dua bulan ke depan, ia diharapkan dapat mengembangkan kontrol suhu yang lebih baik, pertumbuhan bulu, membuka mata dan memulai gerakan motorik awal.
“Pada tahap awal ini, bayi panda belum dapat diakses oleh publik. Taman Safari Indonesia akan terus memprioritaskan kesehatan dan kesejahteraan ibu dan bayinya, dan mengundang masyarakat untuk ikut berdoa demi perkembangan bayi panda agar tetap sehat dan aman pada tahap awal kehidupannya,” tulis mereka.
Presiden Indonesia Prabowo Subianto mengumumkan nama bayi panda tersebut sehari setelah kelahirannya dan memperlihatkan fotonya saat bertemu dengan Wang Huning, penasihat politik terkemuka China dan ideolog utama.
Cai Tao dan Hu Chun, sepasang panda raksasa yang tiba di Indonesia pada 2017, tinggal di rumah yang mirip istana yang dibangun khusus untuk mereka di Kebun Binatang Taman Safari, yang terletak sekitar 43 mil dari Jakarta.
Panda raksasa dianggap sebagai maskot nasional tidak resmi China dan program pinjaman panda raksasa China dengan kebun binatang di luar negeri telah lama dianggap sebagai alat diplomasi lunak Beijing, yang juga dikenal sebagai "diplomasi panda".
Panda raksasa kesulitan bereproduksi, dan kelahiran mereka sangat dinantikan. Saat ini, terdapat kurang dari 1.900 panda raksasa di habitat liar mereka di provinsi Sichuan, Shaanxi, dan Gansu di China.
Editor: Aspian Nur