Sedang Ramai karena Disebut Jokowi, Ini Arti Kata Cawe-cawe dalam Bahasa Jawa
1 menit baca6.384 kali dibaca

Penulis: Rusdianto
KORANKALTIM.COM, SAMARINDA - Beberapa hari terakhir, istilah dalam bahasa Jawa, cawe-cawe tengah jadi perbincangan publik.
Hal ini, merupakan buntut dari ucapan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam pertemuan dengan pimpinan media massa serta pegiat media sosial di Istana Negara Jakarta, Senin (29/5/2023) lalu.
Jokowi, mengaku akan cawe-cawe dalam urusan Pemilihan Umum (Pemilu) 2024 mendatang. "Saya akan cawe-cawe dalam Pemilu 2024 untuk kepentingan negara," ujar Jokowi yang dikutip berulang oleh banyak media.
Terlepas dari urusan netralitas dalam penyelenggaraan Pemilu. Korankaltim.com mencoba menelusuri kata Cawe-cawe itu sendiri sebagai sebuah kata yang berasal dari bahasa Jawa.
Secara sederhana, Cawe-cawe dapat diartikan sebagai ikut-ikutan. Kata ini, sudah diserap dalam Bahasa Indonesia, dan masuk di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).
Kata Cawe-cawe, disebut merupakan kata yang diambil dari bahasa Jawa, yang artinya membantu mengerjakan (merampungkan, membereskan); ikut menangani.
Guna mendapatkan penjelasan lebih lengkap, Korankaltim.com mewawancarai Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Silaturahmi Keluarga Jawa Kalimantan (Si Jaka) Saefuddin Zuhri.
Anggota DPRD Kalimantan Timur (Kaltim) itu menjelaskan, secara umum istilah Cawe-cawe dapat diartikan sebagai tindakan ikut campur dalam sebuah urusan.
"Kata ini sudah umum digunakan di komunitas suku Jawa. Baik dalam percakapan sehari-hari maupun yang formal," kata Saefuddin saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon, Rabu (31/5/2023).
Dalam praktiknya, lanjut Saefuddin seringkali istilah ini dipakai dalam konteks yang negatif. Namun demikian, Saefuddin menegaskan bahwa sejatinya kata Cawe-cawe sendiri bersifat netral.
"Kadang kan sering digunakan untuk orang yang tidak tahu tapi mau ikut campur. Nah itu Cawe-cawe. Tapi sebenarnya kata ini sifatnya netral. Kalau Cawe-cawe tujuannya baik, konteksnya baik. Ya jadi baik," jelas Saefuddin.
Untuk itu, ia berharap agar penggunaan istilah ini tidak diarahkan kepada hal yang sifatnya tendensius ke arah negatif. "Karena ya itu, tergantung konteksnya," pungkasnya.
Editor: Rusdianto










