Baru saja jamaah haul melaksanakan salat tarawih rakaat ke-4, tiba-tiba cuaca yang sebelumnya mendung berubah menjadi hujan deras. Ratusan ribu jamaah yang berada diluar Masjid Jami Sungai Jingah bergeming, tetap salat teraweh, tak peduli tubuh mereka diguyur hujan deras, hingga basah kuyup.
Masya Allah, ini sungguh pemandangan yang menakjubkan. Mereka tak lagi mempedulikan cuaca yang kurang bersahabat, justru terlihat begitu menikmati hujan yang turun hingga tarawih sebanyak 23 rakaat ditambah 3 witir tetap berjalan.
Pancaran bahagia dan sorot mata kerinduan akan sosok almarhum Tuan Guru Ahmad Zuhdiannoor atau dikenal dengan nama Abah Guru Zuhdi terlihat dari wajah jamaah yang hadir. Guru Zuhdi adalah pemuka agama sekaligus tokoh masyarakat yang dikenal sebagai ulama besar berpengaruh dan kharismatik di Kalimantan Selatan.
Abah Guru Zuhdi lahir dari pasangan Tuan Guru Muhammad bin Haji Jafri Al Banjari. Dan wafat pada 2 Mei 2020, kala itu tepat pada hari ke 9 Ramadan.
Setelah dua tahun vakum, tidak menggelar haul akibat pandemi Covid, acara haul ke.3 akhirnya digelar. Sontak kerinduan akan sosok ulama kharismarik ini langsung tumpah ruah. Hal ini terlihat dari begitu banyaknya jamaah yang hadir.
Bahkan sepanjang jalan menuju Masjid Jami mulai dari pasar lama yang jaraknya 1 kilometer lebih ditutup, karena dipenuhi jamaah haul. Warga antusias membagi-bagikan makanan dan minuman kepada jamaah yang hadir.
Begitu banyaknya warga yang ikut berpartisipasi memberikan makanan, satu jamaah terkadang terlihat membawa 2 hingga 3 dan 4 bungkusan kue dan aneka minuman, semua terlihat berlomba-lomba beramal kebaikan.
Reza yang merupakan satu dari beberapa panitia haul kepada Korankaltim.com menjelaskan, kelompok mereka jauh hari sudah menggalang dana untuk menyediakan makanan dan minuman bagi jamaah.
Hal yang sama juga diutarakan karyawan Kapal Api Ozi. Dirinya bersama rekan-rekannya hadir untuk melayani jamaah dengan memberikan secangkir kopi panas. “Saya membawa 5 galon kopi panas, dan ini semua gratis untuk jamaah, karena sudah disponsori oleh pak haji yang tinggal disini,” ungkap Ozi.
Dari pantauan korankaltim.com, acara haul yang digelar usai mengerjakan tarawih, tetap berjalan lancar walaupun hujan namun tidak terlalu deras seperti saat tarawih. Banyak jamaah tetap duduk di aspal yang ditutupi plastik. Untuk menghindari rintik hujan, perlak plastik yang dijual Ro10 ribuan di lokasipun tampak menghiasi kepala para jamaah, sebagai ganti payung.
Editor: Aspian Nur