Kendati demikian, ada hal penting yang juga perlu diketahui oleh umat Islam perihal bulan Ramadan, misalnya alasan kenapa bulan yang mulia dan penuh ampunan ini disebut Ramadan, kenapa bukan nama yang lain?
Dilansir dari islam.nu.or.id Kamis (7/4/2022) hari ini, Sunnatullah, pengajar di Pondok Pesantren Al-Hikmah Darussalam Durjan Kokop Bangkalan Jawa Timur menjelaskan, kata Ramadan (رمضان) sendiri pada dasarnya diambil dari kata “ramidla” (رَمِضَ), yang berarti panas.
Para ulama kemudian menjadikan makna panas pada kata Ramadan dengan arti membakar atau menghapus semua dosa-dosa orang yang berpuasa pada bulan tersebut. Semua itu bukanlah kesimpulan yang tanpa landasan apa pun, melainkan punya dasar dari hadis Rasulullah dan beberapa pendapat para ulama.
Imam Abul Hasan Ali bin Muhammad bin Muhammad al-Baghdadi atau yang lebih masyhur dengan sebutan Imam al-Mawardi dalam satu kitabnya menjelaskan, alasan tersebut karena pada bulan Ramadan merupakan bulan pembakaran dosa.
Dalam riwayat Anas bin Malik, Rasulullah bersabda: وَقَدْ رَوَى أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّه صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: إِنَّمَا سُمِّيَ رَمَضَانُ لِأَنَّهُ يَرْمِضُ الذُّنُوبَ Artinya, “Dan sungguh, Anas bin Malik telah meriwayatkan, Rasulullah SAW telah berkata: Sesungguhnya, dinamakan Ramadan karena karena membakar dosa.”
Maksud dari membakar dosa pada hadits di atas, karena dengan beribadah puasa, semua dosa-dosa yang ada dalam diri umat Islam akan hilang. Puasa tersebut akan menghapus dan menghilangkan semua dosa-dosanya. (Imam al-Mawardi, al-Hawi al-Kabir lil Mawardi, [Beirut, Darul Fikr: 1999], juz III, halaman 854).
Imam Sulaiman bin Muhammad bin Umar al-Bujairami al-Mishri (wafat 1221 H), dalam kitabnya juga menyebutkan dibalik alasan penamaan tersebut adalah karena bulan Ramadan bisa menghilangkan semua dosa-dosa yang ada diri orang berpuasa.
Hanya saja, ada beberapa alasan lain yang melatarbelakangi penamaan tersebut. Dalam kitabnya disebutkan, لِأَنَّهُ يُرْمِضُ الذُّنُوبَ أَيْ يُحْرِقُهَا، وَقِيلَ: لِأَنَّ الْقُلُوبَ تُؤْخَذُ فِيهِ مِنْ حَرَارَةِ الْمَوْعِظَةِ، وَقِيلَ : سُمِّيَ رَمَضَانَ لِأَنَّهُمْ لَمَّا نَقَلُوا أَسْمَاءَ الشُّهُورِ عَنْ اللُّغَةِ الْقَدِيمَةِ سَمَّوْهَا بِالْأَزْمِنَةِ الَّتِي وَقَعَتْ فِيهَا فَوَافَقَ زَمَنَ الْحَرِّ وَالرَّمَضِ Artinya, “Sesungguhnya, (dinamakan Ramadan) karena menghilangkan dosa-dosa, atau membakar (dosa-dosa). Dikatakan (menurut satu pendapat), karena hati menerima panasnya nasihat (mauidzah). Dikatakan (pula), dinamakan Ramadan karena masyarakat terdahulu ketika memberi nama pada bulan-bulan dengan bahasa terdahulu, mereka menamakan bulan dengan musim yang bertepatan pada bulan tersebut, dan Ramadan bertepatan dengan musim panas.” (Imam Bujairami, Hasiyah al-Bujairami ‘alal Khatib.
Dari beberapa penjelasan di atas, dapat disimpulkan pada bulan Ramadan seharusnya dijadikan momentum yang tidak sia-sia untuk bertobat kepada Allah atas segala dosa yang pernah dilakukan selama satu tahun. Sebab, di bulan ini akan lebih gampang diterima dan lebih gampang pula semua dosa-dosa diampuni oleh-Nya.
Editor: Aspian Nur