Bantuan ini sempat dicatat dalam rekor MURI sebagai
bantuan telur ayam terbanyak ke masyarakat, Penyerahan bantuan bagian
dari kampanye makan telur ayam yang saat ini digemakan pemerintah dalam
upaya meningkatkan kebutuhan gizi dan imunitas tubuh.
“Sumbangan ini bentuk kepedulian beliau kepada masyarakat Jatinom.

Kami
sangat menghargai bantuan ini. Pak Airlangga masih sangat peduli dengan
leluhurnya dan budaya yang ditinggalkan oleh Ki Ageng Gribig,” ujar
Ebta Tricahya, Ketua Yayasan Ki Ageng Gribig. Menurutnya ziarah ke makam
Ki Ageng Gribig ini hampir setiap tahun dilakukan oleh Menko Airlangga.
Hanya tahun lalu sempat terhenti karena pembatasan dampak pandemi
Covid-19.
"Sejak kecil Pak Airlangga sering diajak nyekar
bersama keluarga ke makam Ki Ageng Gribig untuk mengirimkan doa kepada
leluhur," kata Ebta. Airlangga meneruskan amanat dari ayahnya R Hartarto
Sastrosoenarto, Menteri era Seoharto), untuk merawat lokasi kompleks
pemakaman Ki Ageng Gribig. Selain itu juga meneruskan tradisi
"Yaqowiyu"
yang dilakukan Ki Ageng Gribig untuk masyarakat sejak lama. Yaqowiyu
merupakan tradisi membagiakan kue apem kepada masyarakat. Tradisi ini
biasa diadakan pada tanggal 15 bulan Safar. Tradisi tersebut sudah
berlangsung sejak ratusan tahun lalu dan menjadi salah satu wisata
religi bagi masyarakat Klaten dan Jateng.

“Tadi, Pak
Airlangga juga sempat menitipkan pesan, agar terus mempertahankan dan
menggelar tradisi Yaqowiyu ini. September nanti akan kami laksanakan
kembali dan kami berharap beliau hadir,” ungkap Ebta. Selain bentuk
gotong royong, tradisi Yaqowiyu adalah bentuk doa yang diajarkan oleh Ki
Ageng Gribig dalam memohon kekuatan kepada Allah SWT.
“Masyarakat
terutama warga Nahdliyin di Klaten dan sekitarnya bangga terhadap Pak
Airlangga yang masih memiliki trah Brawijaya dan Ki Ageng Gribig. Bahkan
sudah muncul tekad dari warga Nahdliyin untuk terus mendukung cita-cita
beliau,” pungkas Ebta. (*/kk)
Editor: Aspian Nur