Lagu ini sempat popular di dunia sepakbola Tanah Air mengiringi kepergian kiper Persela Lamongan Choirul Huda yang meninggal dunia dalam pertandingan Liga Indonesia melawan Semen Padang di Stadion Kanjuruhan, Lamongan Oktober 2017 silam.
Pada video bersumber dari KRI Nanggala-402 yang ter-share di medsos sejak Sabtu (25/4/2021) kemarin, awak KRI Nanggala bernyanyi diiringi alat musik gitar. “Meski pun, ku tak siap untuk merindu, ku tak siap tanpa dirimu, kuharap terbaik untukmu,” kalimat yang dinyanyikan para awak kapal dengan kompak.
Tak pelak keharuan pun menyeruak dirasakan para netizen saat mendengar potongan lagu itu yang seolah menggambarkan rencana kepergian mereka untuk selamanya. Terlebih pada video itu semua awak kapal mengenakan seragam serba hitam dan di kepalanya terpasang baret warna hitam.
“Merinding, husnul khotimah,” tulis akun @nendennecaa. “sedih banget membayangkan mereka saling berangkulan bersama sama menjelang ajal menjemput. menunggu sisa okaigen...masya allah sedih banget,” kata @butiq_u_rini. Tak hanya potongan video itu yang viral di medsos, motto korps Kapal Selam Republik Indonesia yaitu Wira Ananta Rudira juga trending di Twitter .
Wira Ananta Rudira berarti Tabah Sampai Akhir dan resmi digunakan Korps Kapal Selam sejak 16 Maret 1961 hingga saat ini. Tiga kata itu dianggap mewakili semua sifat korps kapal selam yaitu tabah. Orang yang tabah tidak akan takut, karena ia berani. Orang yang tabah tidak akan menyerah, karena ia ulet. Orang yang tabah tidak terburu-buru, karena ia sabar.
“Orang yang tabah tidak akan kehilangan akal, karena ia tenang. Orang yang tabah tidak akan mundur, karena ia teguh,” kata Laksma TNI (Purn) R P Poernomo yang pernah menjabat sebagai Komandan Sekolah Kapal Selam pertama tahun 1959 silam dan mengusulkan kata tersebut.
Selain itu di dunia maya juga beredar foto saat awak kapal salat bersama diatas kapal dan menyempatkan diri makan di sebuah warung makan di Banyuwangi, Jawa Timur sebelum bertugas. Semua video dan foto-foto tersebut terlihat di media sosial setiap saat yang selalu dikomentari dengan nada sedih dan duka.
Editor: Aspian Nur